
Bagi para peramal cuaca di Badan Metereologi Jepang, musim semi
barangkali masa kerja yang jauh lebih menggairahkan dibanding musim
lainnya. Barangkali juga mereka mencintai musim semi lebih daripada
siapa pun. Hari-hari belakangan ini mereka tidak sekadar mencatat
kecepatan angin, tekanan udara dan peluang hujan, tapi juga menggambar
jalur sakura dari selatan ke utara, meramalkan dan mencatat di mana
kelopak sakura mulai merekah. Mereka menggengam spidol merah jambu, dan
memberi bulatan di titik-titik peta.
Siang ini, sakura pertama di Tokyo merekah di Kuil Yasukuni, di pusat
kota. Di sana bersemayam arwah para pemimpin Jepang, termasuk Jenderal
Tojo, yang didakwa sebagai penjahat perang kelas A, setelah perang
dunia kedua.
Yasukuni, adalah kata yang membuat berang China dan Korea Selatan, dan
ziarah tahunan PM Junichiro Koizumi ke kuil itu, menjadi duri tajam
bagi keharmonisan di Asia Timur. Pahlawan bagi Jepang, penjahat perang
bagi China dan Korea... sebuah ziarah dan prosesi sembahyang lima menit
di keheningan kuil Yasukuni, berujung pada api kemarahan luar biasa di
negara tetangga. Dan entah bagaimana persoalan ini dipecahkan, sebab
Koizumi, Hu Jintao, Roh Moo Hyung, sama-sama merasa benar dalam
mengatasnamakan sejarah dan rakyatnya atas pilihan sikap terhadap isu
Yasukuni.
Tapi lupakan dululah pertentangan para pemimpin itu. Mari kita simak
kata petugas peramal cuaca: hari ini, tekanan udara yang tinggi dan
temperatur yang hangat, mendorong sakura mekar 10 hari lebih awal dari
biasanya. Ini pertanda bahwa orang-orang bergegas menyusun
rencana akhir pekan untuk menikmatinya.
Tahun ini sakura pertama mekar di halaman kuil Yasukuni. Para peramal
cuaca mengabarkannya dengan suka cita yang meruah, karena ini salah
satu dari sedikit kesempatan untuk mengabarkan gejala alam yang memberi
kebahagiaan di hati semua orang. Di waktu-waktu lain, mereka, para
peramal cuaca itu, menyampaikan kabar yang sama sekali tidak nyaman:
serangkaian angin taifun atau peringatan tsunami setelah gempa.
Bukankah di negara yang rawan bencana ini, orang-orang harus
membiasakan diri menyimak ramalan cuaca sama seriusnya dengan
berita politik? Dan kepada para peramal cuaca itulah orang-orang harus
percaya, meski terkadang kerap mengalamatkan keluhan bila cuaca memilih
bersikap anomali seperti belakangan ini, dan kecanggihan alat pengukur
apapun tidak berdaya menghadapinya.
Tapi sakura yang mekar lebih awal dari yang diperkirakan.. tentu tidak
ada yang keberatan dengan berita ini. Sebentar lagi, nona-nona muda
menyelaraskan dandanan: mengganti mantel musim dingin berbulu dengan
spring-coat berwarna lembut, dan barangkali juga mengganti cat rambut
dan cat kuku, agar bisa berpose denga gaya terbaik di bawah sakura.
Sementara ibu-ibu muda berharap cemas, agar hujan tidak turun
dalam dua minggu terakhir ini, sebab berpotret di bawah pohon sakura,
di awal tahun ajaran sekolah dengan anak-anak yang bersetelan lengkap,
adalah kebahagiaan yang telah lama dikhayalkan sejak dulu.
O-hanami, tradisi menikmati keindahan sakura yang telah dimulai sejak
periode Heian (794-1191), kembali hadir. Tradisi ini, di jaman
dahulu merupakan bagian prosesi keagamaan memuja keindahan musim semi,
mensyukuri anugerah para dewa, serta mengharapkan panen berlimpah. Tapi
kini, orang-orang tentu telah melakukan penyesuaian di sana-sini dalam
merayakannya, meski dengan semangat yang tetap sama: memuja keindahan
yang sangat sekejap, tak abadi.
Nah, bayangkanlah sebuah jalan kecil yang di kedua sisinya tumbuh
jajaran pohon sakura; batang dan rantingnya saling bertautan
memayungimu seperti tangan anak-anak kecil bergenggaman
dalam permainan ular naga, dan di saat semua kelopak bunga
merekah serempak --seolah berjanji satu sama lain-- kau berjalan
di bawah hamparan naungan bunga-bunga kecil merah muda yang
tampak saling menjalin itu, sehingga sulit mencari celah mengintip
langit. Di tengah keindahan seperti ini, kau tampaknya akan lupa
mengingat apakah langit hari ini biru bersih atau berawan, karena di
atasmu, membentang langit merah muda....
Meja Kerja 403, 21 Maret 2006/22.44 pm.
*) sumber foto: www.inf.ne.jp
