Ada petuah bijak yang mengingatkan: "Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau." Tapi ini yang sering kita lupa: penampakan hijau di mata, butuh jarak pandang tertentu. Artinya, dari jarak jauh dan sedang, misalnya, mata kita menangkap hijau yang betul-betul memukau sekaligus menyejukkan. Namun hati-hati saja, pencitraan yang berbeda bisa saja muncul ketika berada dalam jarak sangat dekat. Bila sang tetangga membuka pintu pagar dan mengajak kita duduk sejenak di rerumputan hijau itu, bisa jadi ada sejumlah catatan kaki tentang hijaunya rumput tetangga itu.
Boleh jadi kita meralat asumsi: "Rumput tetangga memang tampak hijau, tapi setelah diamati lebih teliti, ada juga satu dua bagian rerumputan itu yang rontok." Atau bergumam dengan suara rendah, "Rumput tetangga memang hijau, tapi banyak serangga kecil yang mengganggu keasyikan saat duduk di atas hijaunya rerumputan itu."
Sekarang ini saya sedang duduk di rumput tetangga. Halaman rumput yang saya duduki bernama Tokyo. Kota yang dulunya saya kenal hanya sebagai satu noktah hitam di atlas dunia. Ini salah satu kota dunia, kata orang. Budaya masyarakat Jepang yang ada di benak saya terbentuk melalui serial novel epik Musashi karya Eiji Yoshikawa, serial televisi Oshin dan Candy-candy hingga Doraemon, atau dari kemasan penyedap rasa cap mangkok merah, Ajinomoto. Yang saya bayangkan sebelumnya bahwa inilah negara yang makmur dengan rakyat beretos kerja tinggi.Tapi ketika gerbang dibuka, saya dipersilakan masuk dan duduk di halaman ini, saya tahu bahwa apa yang dulunya nampak hijau dari kejauhan, juga punya titik-titik buram di sana-sini.
Negara ini telah bertahun-tahun mempertahankan tingkat harapan hidup yang paling tinggi di dunia (untuk perempuan), dan tertinggi kedua di dunia (untuk laki-laki). Di rumah saya yang bernama Indonesia, orang-orang masih bergelut menurunkan tingkat kematian ibu melahirkan. Di Negeri ini, orang bekerja keras dan mendedikasikan hidupnya untuk karir dan kejayaan tempat kerjanya. Tingkat pengangguran di bawah 4 persen dengan kondisi ketersediaan kerja dan tenaga kerja adalah 1:1, artinya tersedia pekerjaan bagi setiap pencari kerja yang terdaftar di Kementrian Tenaga Kerja. Di rumah saya, yang bernama Indonesia, tingkat pengangguran resmi yang tercatat di Depnaker berkisar 14-16 persen. Secara sederhana, tingkat pengangguran dua digit selalu jadi ancaman serius. Ini belum pengangguran terselubung dan tidak tercatat.
Tapi tunggu... di kota ini, orang-orang selalu bergegas, tak mudah membagi senyum, dan bekerja banting tulang dalam arti yang sebenar-benarnya, dari pagi hari hingga larut malam. Teman saya malu ketahuan bila tidak masuk kantor gara-gara sakit flu. Ia lebih baik minta cuti saja, mengaku liburan ke luar kota. Apa salahnya sakit? Toh tak ada orang yang ingin jatuh sakit. Tapi bila tak enak badan diumumkan sebagai libur keluar kota, cuti sakit jadi bahan gunjingan, jadi lebih aman ambil paid-holiday, wah apa tidak berlebihan?
Anak-anak muda di Tokyo pun mengirim rentetan keluhan di berbagai kolom konseling, merasa hidup mereka sudah tidak ada arti bila gagal mencapai nilai terbaik atau lulus di universitas ternama. Padahal di mana-mana, yang jadi 5 besar di peringkat kelulusan, ya hanya 5 orang saja, tak mungkin lebih. Bila ada 255 siswa yang bertarung, ya 250 siswa lainnya mestinya sudah siap mental menjadi bukan 5 besar. Tapi begitulah, orang-orang ditempa menjadi nomor satu, dan sayangnya tidak diiringi dengan imbangan pemikiran bahwa tidak nomor satu juga bukan akhir dari hidup ini.
Karena itulah barangkali penulis kondang Junichi Watanabe yang baru-baru ini meluncurkan buku berjudul "Donkanrokyu" (The Power of Insensitivity) mendapat sambutan hangat luar biasa. Bukunya yang baru dirilis bulan Februari lalu, sudah laris manis mencapai 500 ribu eksamplar. Watanabe mengingatkan, orang-orang tak perlu menjadi sangat sensitif, berjiwa lembek, tidak bisa menerima kegagalan. Sekali-kali kita perlu cuek. Tak bekerja keras di kantor bukan dosa. Yang penting, tugas kita terlaksana dengan baik. Kalau kita tetap bersikeras berada di kantor hanya karena atasan belum pulang, wah perilaku seperti ini sih bukan jamannya lagi, kata Watanabe.
Seorang pegawai kantoran dengan naifnya bertanya dalam suatu ceramah umum Watanabe; "Jadi tidak ada salahnya yang untuk rileks di kantor? Jadi bersikap cuek itu ada juga gunanya ya?"
Jadi begitulah, di rumput tetangga yang sedang saya duduki ini ada 1001 persoalan yang tengah bergulir di tengah masyarakat. Dengan mencoba memahami satu demi satu persoalan kemasyarakatan yang ada di sekitar, saya bisa mengajari diri saya menjadi bijaksana menilai bahwa mencapai keseimbangan hidup adalah upaya yang seharusnya dilakukan terus menerus. Selama duduk di rumput tetangga, saya mengajari diri saya untuk tidak menghakimi secara hitam putih apa yang terjadi di sekitar saya, dengan menggunakan satu sudut pandang yang kaku. Saya bukan orang Jepang yang pekerja keras, saya dibesarkan di negara nyiur melambai, yang tongkat kayu bisa tumbuh jadi tanaman kata Koes Plus, sehingga punya semangat kerja yang kadang lentur seperti karet. Saya tidak tahan bekerja dengan waktu kerja yang sangat panjang. Saya selalu mengedepankan metode kerja yang efisien, karena ingin punya waktu yang cukup untuk keluarga dan mengerjakan hobi saya yang lain. Saya tidak ingin menjadi "Ih Jepang banget.." Singkatnya, saya ingin selalu mengekspresikan diri, apa adanya. Untuk itu, saya butuh "kadar cuek" yang cukup tinggi. Karenanya, petuah Watanabe masuk akal bagi saya.
Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Mereka, orang-orang Jepang yang makmur ini, banyak yang tengah bersiap liburan ke Bali di musim panas ini. Beberapa di antara teman saya yang bersiap liburan itu, sebelumnya dengan gegap gempita bercerita tentang orang-orang di negara tropis yang menebar senyum sepanjang hari, meski hidupnya serba kesusahan.
"Bagaimana bisa mereka senyum terus sepanjang hari, padahal hidup serba kekurangan?"
Musim panas tahun lalu, seorang teman bercerita seperti menuturkan keajaiban, "Kamu gak akan mempercayai ini. Di Ubud, aku dijamu oleh sepasang suami istri yang sangat ramah. Tahu tidak, suaminya pengangguran, istrinya sedang hamil tua, dan mereka kok bisa menjamu saya penuh keramahan seperti itu, ya? Hidup mereka rasanya tentram sekali....Mereka kelihatan berbahagia..." Teman saya ini, menuturkan kisah pengangguran penuh senyum itu, kepada setiap teman lainnya yang ditemuinya. Ia seperti menemukan keajaiban yang kontras dengan dirinya yang hidup sendirian di belantara beton di Tokyo, kerja keras dari pagi hingga larut malam, dan tak berhenti memimpikan liburan pendek untuk sekadar keluar dari belitan pekerjaan yang begitu membosankan.
Barangkali yang paling relevan dipertanyakan saat duduk-duduk di rumput tetangga, adalah soal kebahagiaan itu sendiri. Berbahagiakah saya saat duduk di rumput tetangga, atau justru saya lebih berbahagia bila hanya menikmatinya dari jauh? Apakah lebih hijau rumputnya, lebih bahagia penghuninya?
Tokyo, 17 Juni 2007/7:36 pm