lily's posts with tag: perempuan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag perempuan
Blog EntryMasako dan MorgantiniApr 6, '06 7:32 AM
for everyone
Pengumuman yang aneh dan diserukan berulang kali: bila perempuan ini tiba, tetaplah duduk di tempat, jangan mencoba menyambutnya, jangan bertepuk tangan, jangan mencoba menyalaminya, apalagi mengajaknya berfoto. Perempuan ini datang dalam kapasitas pribadi, jadi tetaplah duduk di tempat, dan bersikap biasa.

Ia datang lima belas menit setelah pengumuman itu berkumandang. Forum dialog telah dimulai sejak satu setengah jam yang lalu. Pembahasan pemberantasan kemiskinan sudah merambah Amerika Utara, India hingga Afrika, saat ia datang bersama enam pengawal bersetelan hitam dengan garis muka sangat dingin --kontras dengan cuaca musim semi yang ramah.

Puteri Masako, mantan diplomat, sang calon Permaisuri Kekaisaran Jepang itu memilih duduk di barisan kelima. Para pengawal menyebar di barisan keenam dan ketujuh. Semua orang patuh pada pengumuman aneh di pertengahan diskusi: tidak menganggapnya sebagai seseorang yang istimewa. Ia peserta diskusi biasa, yang mencatat poin-poin yang dirasanya penting, yang menganggukkan kepala ketika merasa mendapat penjelasan masuk akal tentang strategi pemberantasan kemiskinan yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih banyak.

Dua baris di depan Puteri Masako, duduk Luisa Morgantini, ketua Komisi Pembangunan Parlemen Eropa. Ia berkaca mata tebal dengan raut wajah yang terlihat lelah. Morgantini, salah seorang pendiri jaringan perempuan anti perang, Women in Black itu lalu membalikkan badan, mengangguk hormat pada Masako, kemudian kembali memperbaiki posisi duduk, menghadap ke depan podium, kembali serius mencatat dan mengangguk-angguk kecil.

Dalam catatan saya, Masako adalah simbol perlawanan sekaligus ketidakberdayaan. Pun demikian Morgantini. Masako baru saja sembuh dari stress karena tidak mampu mengikuti aturan kerumahtanggan Kaisar Jepang dengan baik. Ia frustrasi karena hanya bisa menghadiahkan seorang anak perempuan bagi keluarga Kaisar yang membutuhkan bayi laki-laki penerus takhta. Semangat perlawanannya atas rasa terkekang ini berbuah goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap ringan. Dua tahun terakhir ia gagal menjalankan tugas kekaisaran. Dokter mendiagnosis: stress berat. Diplomat cerdas yang bertransformasi menjadi calon permaisuri, sudah pasti merupakan pilihan hidup yang menghadirkan banyak goncangan dan drama tragis. Ia tidak ingin sekadar melambai dengan anggun di balkon istana, tapi bukankah ia sejak awal sadar bahwa kehidupan istana identik dengan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia inginkan, termasuk melambai seanggun mungkin? Seperti ia seharusnya sadar bahwa bila ia cinta pada Putera Mahkota, ia juga harus mencintai (meskipun dengan terpaksa) Biro Kerumahtanggaan Kekaisaran yang mengatur kehidupannya.

Morgantini sebaliknya makin bertambah stress melihat makin frustrasinya rakyat Palestina pasca kemenangan Partai Kadima di Israel. Ia menyuarakan perlawanan.Di surat kabar Italia, IL Manifesto, bulan Januari lalu ia menulis kisah sedih yang paling sedih, sebuah agony tentang perempuan Palestina bernama Fatma Bargouth yang meninggal akibat kanker payudara. Tembok militer Israel, pos penjagaan tempat bermohon visa, menghambat harapan Fatma dirawat di sebuah rumah sakit di Israel. Pasien Palestina, tim dokter Israel, dan konflik berkepanjangan adalah tiga hal yang tidak mudah dicari titik temunya untuk bersegera menyelamatkan nyawa.

Fatma akhirnya meninggal, dan ini memang sebuah agony: jasadnya yang hendak dikuburkan pun harus menunggu redanya pemboman di sepanjang jalan menuju pemakaman. Maka Morgantini menulis penuh kemarahan: bahkan jalan menuju tempat peristirahatannya yang terakhir pun lenyap seketika tersapu bom dan muntahan peluru.

Dari foto di surat kabar dan berita di televisi, beberapa bulan terakhir ini Puteri Masako sudah tampil kembali di hadapan umum. Ia kembali melambai-lambaikan tangan dengan senyum menawan, sambil menggandeng puterinya yang berusia 4 tahun. Herannya masih banyak yang yakin bahwa senyum itu mengabarkan sikapnya yang sudah lelah melawan, lelah berharap.

Sebaliknya, di surat-surat kabar Eropa, Morgantini memborbardir kenyamanan hidup negara maju dengan kabar sedih yang paling sedih dari Ramallah. Ia tinggal di sana, menjalankan tugas memantau Pemilu Parlemen Palestina bulan Januari lalu, yang dimenangkan Hamas, dan dicemaskan oleh Barat. Pada suatu titik tertentu, ia pun merasa lelah dan akhirnya melahirkan tulisan "I`m sick of hope" yang menggambarkan kelelahan yang luar biasa mengharapkan perdamaian di Timur Tengah.

Di saat istirahat forum diskusi siang itu, ia berkata pada saya dengan bibir bergetar dan mata menerawang, "Kamu tahu, banyak korupsi di sana. Banyak pergesekan kepentingan di sana. Sama banyaknya dengan orang yang mati...."

Ia lalu bangkit. Sebelum berlalu, ia memberitahu rencananya, "Saya akan kembali ke Ramallah....Saya akan berkirim kabar.."

Adapun Puteri Masako, harus buru-buru pulang makan siang di istana kaisar. Ia mengemas tas tangannya yang hitam berkilat, memasukkan catatannya tentang kemiskinan global, kesenjangan antara komitmen politik negara maju dengan realisasi bantuan, Afrika yang makin miskin, Free-Trade WTO yang makin bonyok dihajar sikap keras kepala negara berkembang dan forum sosial global...

Masako tak melambaikan tangan. Ia hanya mengangguk pelan kepada semua peserta diskusi lalu berjalan dalam lindungan enam pengawal yang sepertinya  membentuk kerangkeng. (*)

Tokyo, Kamis 6 April 2006/20:32 pm


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help