lily's posts with tag: ngopi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ngopi
Blog EntryMenu Kopi Sore: AcehMar 24, '06 5:32 AM
for everyone
Kopi sore adalah ritual hari kerja saya. Ritual yang terpelihara dengan baik dua tahun terakhir berkat lokasi kantor yang dikepung sedikitnya 10 coffee shops di tiga pintu masuk utama. Di pintu lantai 3 dan 4, ada 2 gerai Starbucks yang selalu menggoda. Tiga gerai Doutour juga mengepung dengan selisih jarak lebih dekat di lokasi yang sama. Sementara New Yorkers tak mau kalah: memajang papan Today`s Coffee-nya begitu dekat dari pintu masuk di lantai 3.

Anehnya, meski memutuskan menghirup secangkir teh pepermint, teh celup murahan, atau cokelat hangat yang dibeli di mesin otomatis "super jujur", bila sedang malas berjalan ke luar, tetap saja ritual itu bernama kopi sore.

Dan hari ini kopi sore tersaji gratis di Rumah Duta Besar RI untuk Tokyo yang mewah dan luas, lengkap dengan lapis surabaya, lemper ayam, pie dan pastel, plus presentasi pembangunan di Aceh dan Nias.

Kopinya sangat biasa. Hanya kopi bubuk yang tidak wangi, yang diseduh air panas lalu ditampung di termos plastik besar. Termos semacam ini mengingatkan pada termos di hotel kelas melati di tanah air, bermerek Maspion atau Lion dengan model yang hampir sama. Saya selalu was-was dengan kopi yang tidak wangi dan diseduh seadanya, karena ada semacam takhayul pribadi bahwa efeknya membuat saya cepat tidur. Saya pun selalu was-was bahwa saya sudah termasuk manusia yang tidak bisa jauh dari mesin espresso.

Sore ini saya menghirup kopi yang tidak wangi sambil memikirkan Aceh. Di luar angin bertiup kencang, temperatur anjlok 4 derajat celsius: awal musim semi yang aneh.

Layar monitor menayangkan wajah Aceh yang mulai berubah. Rumah-rumah beratap merah berjajar rapi, seperti tentara yang apel pagi. Pasar Atjeh telah direnovasi, tenda warna warni pedagang bermunculan, jual beli ramai sekali. Pidato presiden dan para pejabat ditayangkan dalam kemasan yang apik dengan musik latar sepotong simponi klasik yang tidak dicantumkan nama dan sumber pengutipannya.Semua pejabat bicara lancar, mengutip angka, berkali-kali mengucapkan terima kasih, berbahasa Inggeris semaksimal mungkin menyebut banyak istilah: emergency relief, reconstruction, transparency, international trust, anti-corruption management.

Aceh terlihat rapi dan cantik dalam presentasi. Para donatur Jepang yang duduk dengan tertib menyaksikan film itu, bertepuk tangan sambil mengangguk-angguk. Ada beberapa yang serius mencatat dan memotret. Televisi berukuran sangat besar menayangkan kilas balik peringatan setahun tsunami bertabur wajah-wajah ceria para penguasa.

Setelah menuntaskan kopi, presentasi terus berlangsung, namun saya memutuskan pulang untuk sejumlah alasan: baby sitter tidak bisa menjaga Fawwaz karena harus menari di sebuah acara kebudayaan (ia membawakan tarian Merak katanya); sebagai tukang catat yang baik, saya sudah mendapatkan bahan yang cukup; dan dengan seketika efek kopi tidak wangi bercampur takhayul betul-betul telah membuat saya mengantuk.

Yang saya garis bawahi di buku catatan sore ini: "Badan Rehabilitasi Rekonstruksi Aceh dan Nias, bertekad menegakkan transparansi dan manajemen anti-korupsi dan mengabarkan ini pada dunia." Pejabat yang melakukan presentasi mengucapkan tekad itu dengan Bahasa Indonesia dengan penekanan pada kata "bertekad".

Dalam perjalanan pulang, angin makin kencang, udara dingin stabil pada suhu 4 derajat celsius, langit mulai gelap: awal musim semi yang aneh. (*)

Meja Kerja 403, Jumat 24 Maret 2006/ 19:28 pm.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help