lily's posts with tag: movie

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag movie
Blog EntryYasmin, Si Pencemar BudayaNov 1, '06 3:56 AM
for everyone

"They can condemn me to hell. It's not for them to decide anyway.

They can call me names. If it's up to me to forgive them, I do, and with a clear conscience.

They will most likely keep calling me names and condemning me. And each time they do it, my heart bleeds a little..."

(Dikutip dari blog sutradara kontroversial Malaysia, Yasmin Ahmad )

Saya bertemu Yasmin di Festival Film Internasional Tokyo pekan lalu. Perempuan cantik, bersorot mata tajam, cerdas dan sangat mandiri. Setelah menghadiri pemutaran filmnya, saya memutuskan menulis tentang kebangkitan film Asia Tenggara. Yasmin adalah salah satu tokoh sentral dalam tulisan itu. Yang membuat saya kagum adalah keterusterangannya, seperti lontarannya bahwa ia dituding sebagai pencemar budaya oleh sebagian pengamat perfilman di Malaysia.

"Saya adalah pencemar budaya. Merekalah yang agung. Saya adalah seniman yang perlu dikutuk sejadi-jadinya, karena upaya saya mengungkapkan potongan realitas yang hadir di masyarakat."

Yasmin dipuja dalam berbagai festival di luar negeri. Filmnya, "SEPET" menang sebagai film terbaik Asia pada Festival di Tokyo tahun lalu. Film lainnya, "RABUN", yang berangkat dari ide cerita masa pensiun kedua orangtuanya juga mendapat penghargaan di Perancis. Sebaliknya, ia adalah sosok kontroversial di negerinya sendiri.

"Saya tidak ingin munafik. Film saya memotret realitas. Apa adanya. Ini soal kemanusiaan yang sederhana...tapi banyak orang yang marah dan menganggap saya mengkhianati keluruhan budi dan nilai -nilai budaya dan agama.."

Dengan santai ia menyebut dirinya, "Ya...sayalah di pencemar itu.." seperti dengan santainya ia pun menjadikannya judul tulisan di blog-nya.

Apa yang tercemar dan siapa yang merasa tercemar? Orang-orang melayu yang agung itu, jawabnya. "Mereka  bereaksi keras dan berkata bahwa saya tidak pantas menjadi duta negara melalui film saya.."

Apa contoh ketercemaran itu? Yasmin menjawab lagi, lihatlah dalam film "SEPET" yang bercerita tentang seorang gadis melayu yang jatuh cinta pada pemuda Tionghoa miskin penjual VCD bajakan. "Banyak yang marah..katanya saya mengajarkan anak-anak gadis beragama Islam untuk jatuh cinta pada orang lain agama. Ini sama sekali tidak boleh dibiarkan. Kata mereka lagi, perempuan muslim yang saleh tidak akan mungkin menyimpan niat sedikitpun menjalin kasih dengan laki-laki non-muslim..."

Apa penjelasan logis untuk itu? Yasmin menjawab lagi, "Well, saya hanya memotret realitas. Malaysia sangat multi-budaya. Peristiwa seperti ini jamak, kawin campur adalah kenyataan..tapi mengapa mereka mengamuk ya?" Yasmin angkat bahu, membetulkan letak syalnya dan kemudian melanjutkan lagi, "GIliran saya memfilmkan kehidupan orangtua saya sendiri, mereka juga marah dan bilang ini mencoreng budaya Melayu dan agama...."

Film ibarat ruang tamu, kata Garin Nugoroho, salah seorang juri festival tahun ini. Garin mengagumi Yasmin, karena katanya, film-film Yasmin menyulut rasa cemburu. "Coba bayangkan, film-film karya Yasmin bisa mengangkat kehidupan multi kultur masyarakat Malaysia dengan demikan bagus. Di Indonesia, 99 persen film yang dibuat bercerita tentang kelas menengah dengan lokasi di Jakarta. Kita menonton Jakarta, bukan Indonesia."

Memang banyak yang mengagumi Yasmin, termasuk panitia dan juri yang memutuskan mengadakan sesi pemutaran khusus "Yasmin Ahmad The Story Teller" yang menampilkan empat filmnya sekaligus. 

Apa yang saya kagumi dari Yasmin adalah keterusterangannya. Ia bercerita bahwa ia capek memproduksi iklan-iklan yang begitu manipulatif dan tidak memotret realitas. Bertahun-tahun bergelut di bidang iklan dan sempat menjadi orang nomor satu Leo-Burnett (perusahaan periklanan global terkemuka) untuk kantor cabang Kuala Lumpur, membuatnya lelah. "Sekarang saya ingin jujur memotret kenyataan. Film adalah media yang tepat bagi saya untuk menelanjangi kemanusiaan kita...meski bayaran yang saya dapatkan adalah julukan: Si Pencemar Budaya. Tak apa. Bukankah julukan itu cukup menarik untuk menjadi judul tulisan?"

Tokyo, 1 November 2006

 

 

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help