Memandang Makassar Dari Samping
(episode jalan ahmad yani)
seorang suami mengayuh sepeda membonceng isterinya
melintas di bawah jajaran pohon akasia dan papan reklame
"apa yang dilihat punggungmu, isteriku?"
"kantor balaikota."
mata isterinya mengerjap menatap Grand Hotel
gedung berpilar tinggi dengan atap hijau berlumut
dibayangkannya sebuah pesta dansa
noni berpita dan sinyo bercelana selutut
melenggang di sela alunan gramophone
sebuah sejarah yang bersikeras dikekalkan
(dua puluh tahun kemudian・/i>.)
seorang demonstran membonceng kekasihnya seusai unjuk rasa
" Ini bonceng perempuan," kata sang kekasih yang mengenakan rok panjang, melingkarkan lengan di pinggang
"Mengapa cara duduk pun kau beri jenis kelamin, sayang?・
derum motor, raungan asap, menjejak di persimpangan yang bising
"apa yang dilihat punggungmu, sayang?"
"kantor balaikota."
mata sang kekasih menatap gedung berdinding kaca
yang memantulkan bayangan siapa saja yang melintas
lantai dansa noni dan sinyo berganti karpet merah hati
bertulis "welcome"
dan sebuah papan kecil terayun di pintu masuk bertulis "open"
tapi mengapa harus merasa bersalah karena tak mengekalkan yang silam?
bukankah pembangunan sudah lama tidak berkompromi pada sejarah?
seorang perantau kesepian menggumam,
"sejarah di kota ini hanyalah merek kopi di jalan veteran.・
Makassar-Tokyo Januari 2006
(catatan pulang kampung bersama Farid, Fawwaz dan Hasymi)