lily's posts with tag: kopi
Kopi sore adalah ritual hari kerja saya. Ritual yang terpelihara dengan
baik dua tahun terakhir berkat lokasi kantor yang dikepung sedikitnya
10 coffee shops di tiga pintu masuk utama. Di pintu lantai 3 dan 4, ada
2 gerai Starbucks yang selalu menggoda. Tiga gerai Doutour juga
mengepung dengan selisih jarak lebih dekat di lokasi yang sama.
Sementara New Yorkers tak mau kalah: memajang papan Today`s
Coffee-nya begitu dekat dari pintu masuk di lantai 3.
Anehnya, meski memutuskan menghirup secangkir teh pepermint, teh celup
murahan, atau cokelat hangat yang dibeli di mesin otomatis "super
jujur", bila sedang malas berjalan ke luar, tetap saja ritual itu
bernama kopi sore.
Dan hari ini kopi sore tersaji gratis di Rumah Duta
Besar RI untuk Tokyo yang mewah dan luas, lengkap dengan lapis
surabaya, lemper ayam, pie dan pastel, plus presentasi pembangunan di
Aceh dan Nias.
Kopinya sangat biasa. Hanya kopi bubuk yang tidak wangi, yang diseduh
air panas lalu ditampung di termos plastik besar. Termos semacam ini
mengingatkan pada termos di hotel kelas melati di tanah air,
bermerek Maspion atau Lion dengan model yang hampir sama. Saya selalu
was-was dengan kopi yang tidak wangi dan diseduh seadanya, karena ada
semacam takhayul pribadi bahwa efeknya membuat saya cepat tidur. Saya
pun selalu was-was bahwa saya sudah termasuk manusia yang tidak bisa
jauh dari mesin espresso.
Sore ini saya menghirup kopi yang tidak wangi sambil memikirkan Aceh.
Di luar angin bertiup kencang, temperatur anjlok 4 derajat celsius:
awal musim semi yang aneh.
Layar monitor menayangkan wajah Aceh yang mulai berubah. Rumah-rumah
beratap merah berjajar rapi, seperti tentara yang apel pagi. Pasar
Atjeh telah direnovasi, tenda warna warni pedagang bermunculan, jual
beli ramai sekali. Pidato presiden dan para pejabat ditayangkan dalam
kemasan yang apik dengan musik latar sepotong simponi klasik yang tidak
dicantumkan nama dan sumber pengutipannya.Semua pejabat bicara lancar,
mengutip angka, berkali-kali mengucapkan terima kasih, berbahasa
Inggeris semaksimal mungkin menyebut banyak istilah: emergency relief,
reconstruction, transparency, international trust, anti-corruption
management.
Aceh terlihat rapi dan cantik dalam presentasi. Para
donatur Jepang yang duduk dengan tertib menyaksikan film itu, bertepuk tangan
sambil mengangguk-angguk. Ada beberapa yang serius mencatat dan
memotret. Televisi berukuran sangat besar menayangkan kilas balik
peringatan setahun tsunami bertabur wajah-wajah ceria para penguasa.
Setelah menuntaskan kopi, presentasi terus berlangsung, namun saya
memutuskan pulang untuk sejumlah alasan: baby sitter tidak bisa menjaga
Fawwaz karena harus menari di sebuah acara kebudayaan (ia membawakan
tarian Merak katanya); sebagai tukang catat yang baik, saya sudah
mendapatkan bahan yang cukup; dan dengan seketika efek kopi tidak wangi
bercampur takhayul betul-betul telah membuat saya mengantuk.
Yang saya garis bawahi di buku catatan sore ini: "Badan Rehabilitasi
Rekonstruksi Aceh dan Nias, bertekad menegakkan transparansi dan
manajemen anti-korupsi dan mengabarkan ini pada dunia." Pejabat yang
melakukan presentasi mengucapkan tekad itu dengan Bahasa Indonesia
dengan penekanan pada kata "bertekad".
Dalam perjalanan pulang, angin makin kencang, udara dingin stabil pada
suhu 4 derajat celsius, langit mulai gelap: awal musim semi yang aneh.
(*)
Meja Kerja 403, Jumat 24 Maret 2006/ 19:28 pm.
| |
|