lily's posts with tag: koizumi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag koizumi
Blog EntrySayonara Koizumi-san!Sep 22, '06 5:05 AM
for everyone

Junichiro Koizumi here....

Many thanks for the past years.

Ini email terakhir. Sapaan terakhir. Orang yang selama ini setiap minggu mengirim email kepada dua juta pelanggan Koizumi Cabinet Email Magazine itu mengucapkan salam perpisahan. Ia telah menyelesaikan jabatannya dan menulis sebuah email perpisahan yang mencoba meyakinkan siapa saja yang membacanya, bahwa ia hanyalah orang biasa yang telah diberi kepercayaan memimpin. Bagi yang mendukung, ia yakin bahwa dukungan itulah yang senantiasa menguatkannya di tengah berbagai kritikan. Sedangkan bagi yang senantiasa mengkritiknya, ia pun yakin kritikan yang tiada henti itulah yang menguji ketegasan kepemimpinannya.

Untuk pamit, Koizumi memilih seuntai kata-kata bijak seorang filsuf China, sebuah pepatah dan sepotong tanka (puisi pendek Jepang). Untaian kalimat sang filsuf mengingatkan bahwa tanggung jawab besar yang dibebankan kepada seseorang adalah ujian untuk menempa kemampuan. Pepatah kuno kedua mengingatkan ketidaksempurnaan: "orang yang bijak biasanya kurang berbakat, sebaliknya orang berbakat kurang dapat bertindak bijak" Tapi Koizumi ingin mengisyaratkan dirinya tidak berbakat dan sekaligus tidak bijak. "Saya yakin diri saya adalah seorang peragu, yang biasa, seperti orang kebanyakan."

Karenanya, ia senantiasa memandang dirinya sebagai orang biasa, tapi dengan nasib baik. Dan barangkali karena itu pulalah ia menutup emailnya dengan tanka yang menyatakan hanya kerjasama dan dukungan banyak orang yang membuatnya bisa memerintah dengan baik, tetap kukuh dan tegas pada sejumlah keputusan krusial, hingga di akhir masa jabatan. Terdengar klise, tapi Koizumi bersikeras mengulanginya: terima kasih, terima kasih, dan katanya, "Saya tahu ini tidak cukup mewakili rasa terima kasih saya yang sesungguhnya."

Mengapa tanka dan kata-kata bijak? Untuk sebuah cita rasa penyampaian, barangkali. Tapi lebih dari itu, Koizumi memang kerap mengutip puisi dan penggalan kalimat-kalimat kuno. Seperti ketika ia mulai menjadi orang nomor satu di Jepang pada tahun 2001, ia pun menulis kata-kata bijak dalam bentuk kaligrafi.

(**maaf interupsi dulu, ada contekan nih dari artikel Farid, kayaknya nyambung ditaruh di paragraf selanjutnya*** ya..lanjut..)

Koizumi menyebut dirinya “singa”, dan dengan itu, agaknya, ia ingin mengasosiasikan diri dengan kearifan Confucius: “Jika rakyat tidak percaya pemimpinnya, pemimpin itu tidak bisa bertahan”. Kata-kata yang terpatri dalam kaligrafi kanji yang ditulis Koizumi ini, mengutip percakapan Tzu-kung dengan Confucius tentang pemerintahan. Syarat-syarat pemerintahan, demikian Confucius menjawab Tzu-kung, adalah tersedianya cukup makanan, cukup perlengkapan militer, dan kepercayaan rakyat pada pemimpinnya. Jika ada yang harus dikorbankan, maka pertama-tama adalah perlengkapan militer. Lalu, jika masih harus memilih antara dua yang tersisa, maka korbankanlah persediaan bahan makanan. “Kematian selalu menyertai kita, tapi jika rakyat tidak percaya pemimpinnya, pemimpin itu tidak bisa bertahan,” demikian Confucius.

Koizumi disayang, Koizumi dibenci. Kalangan konservatif memuja kunjungan rutinnya ke Kuil Yasukuni, tapi negara-negara tetangga meledakkan kemarahan. Ekonomi makin pulih di hari-hari terakhir kepemimpinannya, tapi sejumlah masalah sosial masih rawan.

Kini, di saat ia berkemas, ia mungkin sedang tersenyum senang mengingat serangkaian kata-kata bijak yang selama ini dihayatinya dengan baik: ketegasan memimpin dan kepercayaan dari rakyat adalah pencapaian tertinggi seorang pemimpin. Tak heran bila jajak pendapat masih menunjukkan popularitas Koizumi yang tetap di atas 50 persen, di minggu terakhir ia menjabat. Suatu angka yang sulit ditembus politikus Jepang dalam jajak pendapat umum.

Dan inilah rencananya setelah secara resmi menyerahkan jabatan kepada Shinzo Abe, yang akan menjadi Perdana Menteri baru: saya akan tetap membantu Abe di parlemen sebagai anggota parlemen biasa, sambil memelihara sikap low profile . Ini bisa jadi berarti, ia akan duduk tenang dalam sidang di Gedung Diet sambil menyempatkan menulis tanka dan haiku. Bukan lagi sang singa dengan surai tegak yang mengaum menjawab semua kritikan anggota parlemen.

Sayonara Koizumi-san!

::ly::

Tokyo 22 September 2006


Blog EntryKoizumi Here....Apr 11, '06 3:07 AM
for everyone

Hai Koizumi di sini...

Sakura di sekitar kantor saya merekah penuh. Betapa indah kelopak-kelopak yang mekar itu terayun indah dipermainkan angin...

Inilah catatan pembuka Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi dalam email magazine terbarunya, yang tiba pekan lalu. Saya hanyalah salah seorang dari kurang lebih dua juta pelanggan email magazine Koizumi. Alasan berlangganan, tentu tidak jauh beda dengan alasan pelangganan lainnya: ingin tahu sisi manusiawi orang nomor satu Jepang ini. Ingin tahu pandangan-pandangan subyektifnya tentang bunga sakura, pertunjukan opera kegemarannya, Richard Gere, film Hollywood yang ditontonnya, hingga isu keamanan Asia Timur dan perang global melawan terorisme.

Saya awalnya curiga Koizumi menyewa ghost writer, tapi teman saya bilang, percayalah, Koizumi menulis sendiri kolom dua mingguan dalam bentuk email magazine itu. Terlepas dari gaya kepemimpinannya yang tegas, sikap keras kepalanya terhadap sejumlah isu, atau ciri khas easy going-nya yang tak lazim dalam khasanah perpolitikan Jepang, saya akhirnya dibuat percaya bahwa memang Koizumi meluangkan waktu untuk membuka sisi manusia dalam dirinya, suatu sudut yang serba biasa terlepas dari jabatan dan segala atribut dan intrik yang melekat padanya.

"Shall we dance?" tanyanya pada perjumpaan dengan Richard Gere tahun lalu. Ia menulis rasa kagumnya yang polos pada pencitraan yang direkayasa industri perfilman Hollywood terhadap Mr. Gere. Mereka memang berdansa di rumah jabatan Perdana Menteri. Tentu tak lazim menyaksikan ini, dan bukankah kita membayangkan film yang berjudul sama menampilkan Nona Jeniffer Lopez dan Tuan Gere? Si cantik dan si tampan yang membesut mimpi jutaan penonton dari Doha hingga Johannesburg, dari Canberra hingga Calgary.    

"Saya tenggelam di sofa, duduk sendirian dan menangis haru..Saya demikian hanyut dalam pertandingan ini.." tulis Koizumi dalam sebuah edisi email magazine yang lain, mengomentari babak final kejuaraan bisbol antar-SMU se Jepang.

Ia hadir sebagai orang biasa. Setiap dua minggu ia datang seperti seorang kawan yang datang bercerita tentang apa saja,  yang remeh temeh, dengan nada bersahabat dan membuat sebagian orang yang membacanya lupa akan serangan-serangan hebat yang dihadapinya dalam sidang komisi Majelis Rendah, atau tanggapannya yang tidak kalah tajam atas kontroversi kunjungannya ke Kuil Yasukuni, yang ditentang China dan Korea Selatan.

Di email magazine terbarunya, Koizumi bercerita tentang stres berat yang menimpanya akhir-akhir ini setelah 30 tahun malang melintang di gelanggang politik. Tapi, lagi-lagi seperti kawan yang datang bercerita, ia tidak menyimpulkan apa-apa, kecuali kemudian menyambungnya dengan cerita-cerita lainnya. Ia menulis, "Wah, saya merasa sebagai orang paling beruntung pada malam tanggal 3 April lalu, karena menonton opera favorit saya Turandot  karya komposer Italia, Puccini, dengan duduk berdampingan bersama Nona Shizuka Arakawa, peraih medali emas dalam nomor skating di Olimpiade Musim Dingin Turin beberapa waktu lalu."

Di balik kesederhanaan dan keserbabiasaan ini, email magazine ini sebuah strategi komunikasi politik: penguasa yang senantiasa memberi akses kepada publik untuk membaca sisi manusianya yang serba biasa. Bukankah ini resep klasik para humas internasional yang merancang pencitraan seorang pemimpin agar popularitasnya tetap stabil? Klasik dan tidak pelik. Koizumi melakukannya sejak lima tahun lalu. Ia meluangkan waktu setiap dua minggu untuk itu. Sebagai pemimpin, banyak yang memuja namun tidak sedikit yang mencerca. Tapi sebagai kawan yang ingin berbagi cerita keseharian, yang memuja dan mencerca, sama-sama membuka pintu untuknya.  

Persoalannya, mendatangi rakyat dengan semangat orang biasa, sering tidak lagi menjadi agenda penting bagi banyak penguasa, ketika kekuasaan sedemikian menyilaukan, membuat dada sesak,  membuat lupa. Bagi penguasa yang lupa, rakyat selalu dipandang sebagai paket kampanye, yang dibongkar-pasang bersama dengan panggung kampanye.  Namun, bagi penguasa seperti Koizumi, komunikasi pribadinya kepada rakyat adalah sesuatu yang sinambung, terus menerus, dan disuarakan sendiri. Dan ketika ia datang bercerita, saya memang selalu menyempatkan diri membaca kabar terakhirnya, meski saya bukan pemuja, kerap mengkritik kebijakannya, dan tidak memilihnya dalam pemilu (yang terakhir ini bukan karena saya membencinya, tapi semata karena saya orang asing yang tidak punya hak pilih).  

Shibuya, 11 April 2006/15:51 pm

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help