Hai Koizumi di sini...
Sakura di sekitar kantor saya merekah penuh. Betapa indah kelopak-kelopak yang mekar itu terayun indah dipermainkan angin...
Inilah catatan pembuka Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi dalam email magazine terbarunya, yang tiba pekan lalu. Saya hanyalah salah seorang dari kurang lebih dua juta pelanggan email magazine Koizumi. Alasan berlangganan, tentu tidak jauh beda dengan alasan pelangganan lainnya: ingin tahu sisi manusiawi orang nomor satu Jepang ini. Ingin tahu pandangan-pandangan subyektifnya tentang bunga sakura, pertunjukan opera kegemarannya, Richard Gere, film Hollywood yang ditontonnya, hingga isu keamanan Asia Timur dan perang global melawan terorisme.
Saya awalnya curiga Koizumi menyewa ghost writer, tapi teman saya bilang, percayalah, Koizumi menulis sendiri kolom dua mingguan dalam bentuk email magazine itu. Terlepas dari gaya kepemimpinannya yang tegas, sikap keras kepalanya terhadap sejumlah isu, atau ciri khas easy going-nya yang tak lazim dalam khasanah perpolitikan Jepang, saya akhirnya dibuat percaya bahwa memang Koizumi meluangkan waktu untuk membuka sisi manusia dalam dirinya, suatu sudut yang serba biasa terlepas dari jabatan dan segala atribut dan intrik yang melekat padanya.
"Shall we dance?" tanyanya pada perjumpaan dengan Richard Gere tahun lalu. Ia menulis rasa kagumnya yang polos pada pencitraan yang direkayasa industri perfilman Hollywood terhadap Mr. Gere. Mereka memang berdansa di rumah jabatan Perdana Menteri. Tentu tak lazim menyaksikan ini, dan bukankah kita membayangkan film yang berjudul sama menampilkan Nona Jeniffer Lopez dan Tuan Gere? Si cantik dan si tampan yang membesut mimpi jutaan penonton dari Doha hingga Johannesburg, dari Canberra hingga Calgary.
"Saya tenggelam di sofa, duduk sendirian dan menangis haru..Saya demikian hanyut dalam pertandingan ini.." tulis Koizumi dalam sebuah edisi email magazine yang lain, mengomentari babak final kejuaraan bisbol antar-SMU se Jepang.
Ia hadir sebagai orang biasa. Setiap dua minggu ia datang seperti seorang kawan yang datang bercerita tentang apa saja, yang remeh temeh, dengan nada bersahabat dan membuat sebagian orang yang membacanya lupa akan serangan-serangan hebat yang dihadapinya dalam sidang komisi Majelis Rendah, atau tanggapannya yang tidak kalah tajam atas kontroversi kunjungannya ke Kuil Yasukuni, yang ditentang China dan Korea Selatan.
Di email magazine terbarunya, Koizumi bercerita tentang stres berat yang menimpanya akhir-akhir ini setelah 30 tahun malang melintang di gelanggang politik. Tapi, lagi-lagi seperti kawan yang datang bercerita, ia tidak menyimpulkan apa-apa, kecuali kemudian menyambungnya dengan cerita-cerita lainnya. Ia menulis, "Wah, saya merasa sebagai orang paling beruntung pada malam tanggal 3 April lalu, karena menonton opera favorit saya Turandot karya komposer Italia, Puccini, dengan duduk berdampingan bersama Nona Shizuka Arakawa, peraih medali emas dalam nomor skating di Olimpiade Musim Dingin Turin beberapa waktu lalu."
Di balik kesederhanaan dan keserbabiasaan ini, email magazine ini sebuah strategi komunikasi politik: penguasa yang senantiasa memberi akses kepada publik untuk membaca sisi manusianya yang serba biasa. Bukankah ini resep klasik para humas internasional yang merancang pencitraan seorang pemimpin agar popularitasnya tetap stabil? Klasik dan tidak pelik. Koizumi melakukannya sejak lima tahun lalu. Ia meluangkan waktu setiap dua minggu untuk itu. Sebagai pemimpin, banyak yang memuja namun tidak sedikit yang mencerca. Tapi sebagai kawan yang ingin berbagi cerita keseharian, yang memuja dan mencerca, sama-sama membuka pintu untuknya.
Persoalannya, mendatangi rakyat dengan semangat orang biasa, sering tidak lagi menjadi agenda penting bagi banyak penguasa, ketika kekuasaan sedemikian menyilaukan, membuat dada sesak, membuat lupa. Bagi penguasa yang lupa, rakyat selalu dipandang sebagai paket kampanye, yang dibongkar-pasang bersama dengan panggung kampanye. Namun, bagi penguasa seperti Koizumi, komunikasi pribadinya kepada rakyat adalah sesuatu yang sinambung, terus menerus, dan disuarakan sendiri. Dan ketika ia datang bercerita, saya memang selalu menyempatkan diri membaca kabar terakhirnya, meski saya bukan pemuja, kerap mengkritik kebijakannya, dan tidak memilihnya dalam pemilu (yang terakhir ini bukan karena saya membencinya, tapi semata karena saya orang asing yang tidak punya hak pilih).
Shibuya, 11 April 2006/15:51 pm