
Ketika
The Japan Times memberitakan patung Hachiko dicuri orang, para remaja di Shibuya menangis, mengutuki pelaku tak bertanggung jawab dan melampiaskan kemarahan dengan berbagai cara. Patung anjing di gerbang stasiun Shibuya, Tokyo itu memang bukan sekadar sebuah
landmark tempat bertemu. Sebagai salah satu kawasan perbelanjaan dan hiburan yang ramai, Shibuya memang membutuhkan banyak penanda bagi orang-orang untuk bertemu. Patung Hachiko adalah salah satunya. Tapi berbeda dengan penanda lainnya, Hachiko memiliki cerita yang nyata. Kisah anjing ras akita itu sudah menjadi legenda yang diceritakan turun temurun, diulas berulang kali di media dan di berbagai catatan dengan satu pesan moral: kesetiaan. Hachiko dijuluki sebagai anjing yang paling setia di Jepang.
The Japan Times mungkin terlalu berlebihan ketika memilih berita "Patung Hachiko Dicuri Orang" sebagai lelucon April Mop, bulan lalu. Siapa pun yang membaca berita bohong itu bergegas mengonfirmasi kebenarannya. Lantas banyak yang mengurut dada pertanda lega, ketika sadar bahwa itu hanya keisengan merayakan April Fool. Tapi ada hikmahnya juga. Berita heboh itu membuat banyak orang kembali sadar tentang legenda kesetiaan Hachiko. Beberapa hari di seputar bulan April, banyak orang yang melakukan penelusuran di internet untuk mencari tahu atau menyegarkan ingatan tentang anjing yang kini sudah diabadikan juga sebagai nama
micro-bus yang melayani komunitas sekitar Shibuya.
Kitab suci para pelancong,
The Lonely Planet, bahkan mengulas riwayat singkat Hachiko sebagai bagian dari pengetahuan yang penting bagi para turis yang menjalajahi Tokyo. Begini ceritanya, di tahun 1920-an, seorang professor yang tinggal di sekitar Stasiun Shibuya memelihara seekor anjing ras Akita. Anjing ini datang ke stasiun setiap hari menjemput tuannya. Sang professor meninggal pada tahun 1925, tapi anjing kecil ini tak paham bila tuannya telah tiada. Ia terus datang ke gerbang stasiun Shibuya, menunggu dan menunggu. Rutinitas itu dilakukannya hingga 11 tahun setelah kematian tuannya, dan hingga ia sendiri akhirnya dijemput maut. Kesetiaan itulah yang diabadikan melalui patung tembaga yang berdiri tegak di stasiun Shibuya. Kesetiaan ini pulalah yang terus diceritakan turun temurun dan membuat orang-orang setiap hari mengambil foto dengan latar belakang sang anjing.
Saya pun menyayangi Hachiko. Setidaknya, lima kali seminggu saya melintas di depannya. Tak terhitung janji bertemu teman dan sahabat yang saya buat di bawah patung itu. Patung tembaga kecokelatan itu memang menjadi saksi bisu begitu banyak pertemuan orang-orang yang saling berjanji dan saling tunggu. Entah mengapa, pagi ini saya merasa perlu membuat pengakuan bahwa saya sebenarnya terkadang merasa malu pada Hachiko, karena ia juga yang menjadi saksi sifat jam karet saya. Betapa saya masih sering terlambat dari waktu yang dijanjikan, dan akhirnya membuat orang lain menunggu dengan gelisah. Seandainya Hachiko bukan patung bisu, barangkali ia akan menggonggongi keterlambatan saya. Ia akan menegur sikap saya yang sering tidak tepat waktu, meski saya selalu berkilah tak apa bila hanya terlambat 5-10 menit.
Tokyo, 21 Mei 2007/10:37 am