lily's posts with tag: fawwaz
Another Bahasa Indonesia Saga.... Fawwaz: Ada banyak ustas yang datang dari Indonesia selama puasa. Kita "harus wajib" catat ceramahnya dan minta tandatangan ustas (This is a typical activity for the students of Tokyo Indonesian School during Ramadan. Always being on time for tarwih at school, always taking a note, and last but not least, always asking the ustas to sign the Ramadan book.) When I opened his book, there are funny summaries of Ceramah Ramadan, including a highlight of: "Orangtua tidak boleh marah-marah pada anak, kata ustas." "Which ustas saying so?" I asked. "Ustas pengganti! Mr. Pengganti, Mom! Do yo know him?" replied Fawwaz in a full-scale confident. "What`s his name?" "Ya, ustas pengganti!" ** here is the explanation: on the Ramadan list published by a local Indonesian Moslem Community in Tokyo, under the column of preachers` name, there are three "ustas pengganti", who in charge to replace other preachers, but mistakenly understood by Fawwaz as the name of the ustas itself. :)
We have learned that Fawwaz has developed a talent as a story teller in a quite strange way: he tells the story strictly for himself! He started the habit last year, using daddy`s leather belt he takes sometime to play with himself. He moves the belt as if he plays with a string-puppet, while telling the story. He tells the story everywhere he likes, anytime he gets the mood. We also have learned that he wouldn`t let us to interrupt the story time neither asking him to share the story for us. I have tried, however, to persuade him to take the stage (read: our dining table) so we can enjoy his story together, asking him to put the story time as a family activity.But, I was not lucky enough. He persisted that the stories are "kids only", no adults are welcome! So, here is the reality: in this house there is a little boy with a bunch of exclusive stories and two adults with curiosity. I later learned that one day Fawwaz was so impressed by a documentary film in Discovery Channel and shouted out loud: "Mommy, I think I wanna be a producer someday! Making movies!" I replied, "Well, Mom and Dad can help you... we might work with you, being narrators for your movie!" "You are right, Mommy... Well, you can help me!" (Fawwaz had watched a documentary film where I appearred as the narrator, and last weekend he accompanied his father to do similar job, appearing as a narrator for another documentary, as well). So last night, he told me all the exclusive "kids only" stories entitled, "Veldrow, The Superhero". "But, Mommy..there will be 189 episodes. Do you think you still can do the narrator job for such a long time? How if you get tired? " I laughed, then gave him a good night kiss. "Don`t worry..Mom will never be tired to working with you..." Veldrow 189 Episodes. Wow, since when did he decided to create such a long story in his life? Last night, I noticed that Fawwaz just finished the first page of his imagination as usual, but this time, he thought that he need to share the story to me: the narrator to-be.... (not the mother...hehehe) ly
Fawwaz sayang,
Bunda terinspirasi oleh Van Gogh, yang menulis surat untuk saudaranya di suatu musim panas yang cerah. Dikabarkannya tentang langit berwarna biru sepi, juga diceritakannya tentang langit malam yang di atas kanvasnya, menjelma bentangan lapisan ungu tua, dengan bintang kekuningan seperti sekelompok kunang-kunang. Van Gogh mengubah warna langit.
Menikmati lukisan Van Gogh, tiba-tiba saja Bunda ingat padamu. Bunda ingin menulis surat untukmu. Sudah lama kita tidak bermain surat-suratan. Mungkin karena sekarang kau telah begitu mahir menulis, sehingga tak pernah lagi mau memainkan “you`ve got a mail!”
Mungkin kau tidak lagi menemukan kesenangan sekaligus tantangan baru, seperti dulu ketika pertama kali terbata-bata mengeja surat pendek yang Bunda selipkan di bawah kamar tidurmu.
Kau yang terus tumbuh, kini menganggap banyak hal yang dulu kita mainkan bersama, tidak lagi menarik. “Oh come on, that`s for little kids..” begitu katamu. “I am a grown up boy, Mommy..” betapa seringnya kau ulangi kalimat itu, akhir-akhir ini.
Apa yang akan kuceritakan dalam surat ini? Tentang dunia yang makin tak menentu, seperti penggalan puisi kelahiran yang ditulis Ayah untukmu? Ah sebaiknya, tidak. Kita sudah terlalu sering membicarakan dunia yang tak menentu. Minggu lalu kita menonton nasib anak-anak Darfur yang tak bisa sekolah dan tak punya makan yang cukup karena perang yang tak reda.
Dua malam lalu kita berbicara panjang tentang cuaca yang makin sulit ditebak. Dua malam lalu pula melalui tayangan dokumenter di Discovery Channel kau belajar tentang emisi karbondioksida yang mengancam dunia. “Kita mesti hemat energi, Bunda....” katamu sebelum tidur. Duh, sebuah ucapan selamat tidur yang tidak lazim.
Fawwaz sayang,
Kelak kau kenang semua ini sebagai masa kecil yang manis. Ayah dan Bunda yang bersikeras membesarkanmu dengan tangan sendiri. Ayah dan Bunda yang senantiasa menghargai dan berusaha menyelami duniamu. Ayah dan Bunda yang tak berhenti mereka-reka cara terbaik membesarkanmu. Ayah dan Bunda yang terus belajar memahami kehendakmu dan menyelami imajinasi kanak-kanakmu.
Ada baiknya kuceritakan saja tentang dua orang dewasa di rumah ini, yang kadang merasa gugup mencari cara yang terbaik untuk menemanimu tumbuh.
Barangkali kami kerap merasa betapa sempitnya waktu untuk menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untukmu. Juga betapa tidak mudahnya menemanimu menghapal pelajaran sekolah yang begitu banyak. Tapi betapa senang dan bangganya kami karena bisa bergantian melakukan semua itu untukmu. Sepenuhnya melakukannya berdua, untukmu. Kami juga menciptakan cerita demi cerita untuk menghiburmu. Meski akhir-akhir ini kami makin sadar, kemampuan fantasimu sudah sedemikian tingginya, sehingga membuat cerita kami berdua terdengar membosankan.
Semalam Bunda menyadari betapa makin tidak kreatifnya kami berdua sebagai orangtua, mengulang-ulang cerita yang menurutmu “it`s so boring...”
Ya, seharusnya ada cerita yang lebih menantang, seharusnya ada permainan keluarga yang lebih seru, setelah permainan mencatat gedung tertinggi, kegiatan memetakan jejak sejarah dinosaurus, menebak benua dan hewan aslinya, tidak lagi menarik minatmu.
Hari ini, Van Gogh mendatangkan inspirasi. Menemanimu tumbuh bukan sekadar meluangkan waktu dan memenuhi segala kebutuhanmu, tapi juga harus terus menciptakan sesuatu yang baru. Seperti Van Gogh yang melukis langit malam dengan warna ungu tua, Bunda seharusnya bisa menghadirkan kebaruan dan kesegaran dalam keseharian kita. Rutinitas memang harus senantiasa diberi warna.
Selamat menikmati musim semi, Fawwaz. Bagaimana bila besok kita bermain di pantai?
Salam sayang,
Bunda.
Blog ini lama tidak diisi karena banyak alasan. Salah satunya, karena saya malas menulis tentang diri sendiri. Sementara untuk menulis topik yang menjadi perhatian dunia, rasa-rasanya tidak ada waktu yang tersisa. Mestinya saya meluangkan waktu menulis tentang Perang Irak yang sudah berlangsung empat tahun dan rasa frustrasi yang makin lama makin membumbung. Atau tentang orang-orang yang piknik di bawah bunga sakura yang mekar, setelah mereka memberikan suara pada pemilihan gubernur Tokyo yang baru.
Kata seorang teman, peristiwa kecil di tengah kehidupan seseorang bisa menjadi hikmah bagi orang lainnya. Tak ada salahnya dituliskan. Tapi kata teman yang lainnya, hati-hati nanti tulisannya hanya kabar narsis tiada akhir. Makanya, mesti pintar-pintar menakar, saran teman saya ini dengan hati-hati. Nasehatnya, orang narsis itu hanya mementingkan agar dirinya yang menjadi pusat perhatian, tanpa peduli apakah orang suka atau muak. Teman saya punya istilah untuk orang seperti ini: "orang-orang yang sibuk mengagumi diri sendiri."
Nah, biar adil sekarang saya memenuhi saran keduanya. Pertama, peristiwa kecil. Ada satu kejadian bulan Maret lalu yang masih terus teringat hingga sekarang. Ini tentang Fawwaz, anak saya. Di suatu siang, Fawwaz meminjam handphone gurunya. Ia menelepon ke rumah. Suaranya terdengar sedih. Sambil bicara ia menahan tangis. "I hope you will be getting better soon, Dad... I love you. How's Mom? Is she ok?" Lalu tangisnya makin keras.
Hari itu, Fawwaz menangis di kelasnya karena sangat sedih mendapati kenyataan kedua orangtuanya sakit dan harus istirahat di rumah. Rasa sedih itu coba disembunyikannya, tapi akhirnya meledak juga menjadi tangis yang keras ketika pelajaran ketiga berlangsung.
Setelah percakapan telepon yang singkat itu selesai, giliran saya yang menangis. Suami saya yang terserang demam, juga tak menyembunyikan rasa haru. Hari itu kami menjadi orangtua yang mendapatkan ungkapan perhatian seorang anak. Hal yang sebenarnya belum saya pikirkan secara sungguh-sungguh, karena saya masih menganggap Fawwaz adalah mahluk kecil yang justru menjadi curahan perhatian. Bukan sebaliknya: kami mendapatkan ungkapan dan perhatian dari Fawwaz.
Nah, setelah kejadian itu, saya menjadi lebih peka pada setiap ekspresi rasa sayang yang ditunjukkan Fawwaz kepada orangtuanya. Aduh, jangan-jangan selama ini saya menempatkan diri sebagai sebagai pemberi kasih sayang, dan Fawwaz berada dalam posisi "penerima" semata. Aduh, jangan-jangan selama ini saya tak adil dalam memberi ruang yang lebih leluasa baginya untuk mengekspresikan rasa sayangnya? Atau minimal memberi respon pada setiap ungkapan sayang yang diterimanya dari orangtua. Memang setiap malam ada ucapan "I love you, Mom" sebelum tidur, atau juga ucapan selamat ulangtahun, atau ungkapan khawatir bila saya kehujanan. Tapi sekarang yang kami hadapi adalah Fawwaz yang berbicara panjang lebar mengungkapkan kesedihannya bila ayah dan bunda sakit, sehingga harus istirahat di rumah.
Dari peristiwa kecil ini saya belajar betapa perasaan sayang orangtua dan anak seharusnya dibangun sebagai sebuah dialog. Ketika sebagai ibu, saya mengalami sendiri seorang anak kecil yang menunjukkan perhatiannya, saya justru menangis dan tertegun. Padahal, bukankah hal yang sama juga saya lakukan ketika Fawwaz sakit: mengkhawatirkannya, merawatnya dan berdoa bagi kesembuhannya.
Di suatu malam setelah kehidupan di rumah kami kembali normal, saat saya dan suami sudah sembuh, dan kembali melakukan kesibukan seperti biasanya, Fawwaz mengutip rima pendek dari Yu-Gi-Oh untuk kami sebelum tidur:
"Let the darkness be gone
and let the light be re-born."
(bersambung...)
Tokyo, 13 April 2007.
Pernahkah anda terpikir memperkenalkan diri pada anak sendiri? Saya ingin berbagi pengalaman: sejak bisa mengajak Fawwaz berdialog, saya membiasakan diri memperkenalkan diri dan bercerita banyak hal tentang diri saya kepadanya. Kebiasaan ini saya mulai sejak Fawwaz berumur 3 tahun. Kepada Fawwaz, saya bercerita tentang lagu kesukaan, masakan kesukaan, warna kegemaran, dan sebagainya. Singkatnya, saya ingin membiasakan diri menyampaikan informasi langsung kepadanya tentang diri saya.
Tentu informasi yang saya sampaikan disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan bahasa serta nalarnya. Di usianya yang ketiga, saya memperkenalkan warna kesukaan dan binatang kesukaan saya. Karenanya, bila piknik ke kebun binatang, ia menunjuk jerapah dan berkata, "That's you, Mommy!" Ya, di keluarga kami, Fawwaz menyenangi harimau, Ayah penggemar singa, dan Bunda menyukai jerapah. Piknik ke kebun binatang saat Fawwaz berusia 3-4 tahun selalu diwarnai dengan keriangan mencari "tiga binatang keluarga" itu. Demikian juga halnya dengan warna. Dalam kesempatan tertentu, Fawwaz menunjukkan benda tertentu yang berwarna biru, dan berkata, "That"s yours, Mom!" Karena saya memperkenalkan diri sebagai penyuka warna biru.
Seiring dengan pertumbuhannya, saya terus bercerita tentang berbagai hal. Semakin lama, maka semakin kompleks penjelasan yang saya berikan. Kini di usianya yang hampir 9 tahun, Fawwaz telah mendengar banyak informasi langsung bukan hanya tentang rutinitas saya, tapi juga harapan dan khayalan saya.
Mengapa saya melakukannya? Karena sebagai orangtua, saya ingin hadir secara utuh dan wajar di hadapan Fawwaz. Saya ingin Fawwaz tumbuh dengan kesadaran bahwa ia tidak sekadar besar di tengah orang-orang yang mengenal, menyayangi dan peduli padanya, tapi juga dengan orang-orang yang membuka dirinya untuk dikenal dengan baik olehnya.
Dulu, ada sebentuk asumsi bahwa kedekatan saya sebagai ibu sudah otomatis menjadi "harga mati" bahwa Fawwaz telah tahu banyak tentang saya. Tapi kemudian saya mengubah asumsi itu. Bila terentang perbedaan usia 26,5 tahun antara saya dengan Fawwaz, tentu ada "kesenjangan informasi" yang kelak harus saya atasi. Cara yang saya pilih mengatasinya adalah dengan membangun kebiasaan komunikasi :memperkenalkan diri pada Fawwaz. Tentu saya tidak sendiri melakukannya. Suami saya pun melakukan hal serupa.
Dan kini, sudah hampir enam tahun saya melakukan model komunikasi seperti ini dengan Fawwaz. Hasilnya, Fawwaz tumbuh dengan kemampuan empati yang baik, bukan hanya pada kedua orangtuanya, tapi juga untuk hal-hal di luar dirinya. Ia mengenal bahwa Ayah adalah sosok yang bersih dan selalu teratur, karenanya Fawwaz terbiasa menyimpan rapi semua mainannya sendiri, merapikan semua buku yang habis dibacanya, dan membersihkan sisa makan malam bersama-sama. Ia juga tahu dari cerita ayah dan bunda bahwa kedua orangtuanya senang menonton laporan dunia BBC, karenanya ia tak segan memindahkan saluran tv dan menunggu giliran untuk menonton kartun kesukaannya, lalu berkata, "Mom! Dad! News is on !" dan Fawwaz membagi tv untuk kami. Ia bahkan sudah bisa memahami dengan baik bahwa di rumah kami ada sejumlah aturan, setiap penghuni rumah saling menghargai aktivitas masing-masing, sepakat melakukan sejumlah aktivitas bersama, dan ini yang lebih penting: kami tidak pernah direpotkan menjadi orangtua yang selalu melarang ini dan itu kepada Fawwaz.
Pagi ini saya memikirkan kembali kebiasaan sederhana yang sudah terbangun selama enam tahun terakhir ini, dan saya ingin terus melanjutkan "permainan" ini bersama Fawwaz. Enam tahun lalu saya memulainya dengan berdiri di hadapan Fawwaz dan berkata: "My name is Lily, fave color; blue, fave food: fish, fave animal; giraffe, fave child; Fawwaz, of course!"
Kini, sedikit banyak saya telah menikmati hasil permainan sederhana itu. Hari-hari ini penuh dengan suara Fawwaz yang menunjukkan perhatian, "Mom, your movie has started!", "Mom, have you finished your work that you have told me yesterday?", "Mom, you like rain, dont' you? But don"t forget your umbrella!" Fawwaz bahkan pernah sengaja menelepon saya memberi tahu bahwa di luar sedang hujan. Saya memperkenalkan diri padanya sebagai pencinta hujan, dan ia ternyata mengingatnya dengan baik.
Tokyo, Jumat 15 Desember 2006 -- 7:00 am
(tulisan ini lahir saat menemani Fawwaz mengerjakan karangan tentang ayah dan bunda untuk tugas sekolah)
| |