Apakah desa benar-benar menjadi "pujaan hati" seperti dalam syair "Desaku" --lagu kanak-kanak yang abadi itu? Di kelas 6 SD, dengan iringan piano almarhum Boy K Arumpone, guru seni suara sekaligus wali kelas yang sangat saya kagumi, saya menyanyikan lagu itu dengan kunci nada "G" di ujian akhir mata pelajaran seni suara. Teringat, suara saya agak bergetar dan melemah pada bait "selalu kurindukan..." Tapi tentu tidak ada yang betul-betul menggetarkan jiwa kanak-kanak saya waktu itu dalam menghayati makna bait itu, kecuali bahwa saya kepayahan menjangkau nada tinggi di bagian klimaks lagu.
Tapi pernahkah saya benar-benar tergetar oleh sebuah desa? Rasa-rasanya tidak. Saya kurang beruntung dalam hal ini. Saya lahir di tengah kota, rutinitas pulang kampung bukanlah ke desa seperti yang saya bayangkan, karena rumah kakek dan nenek ada di ibukota kabupaten, yang orang-orang dan gaya hidupnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang di kota besar. Saat mahasiswa, masa kuliah kerja nyata (KKN) yang seharusnya bisa menjadi episode mengenal desa, hanya menjadi formalitas belaka karena saya memilih sebuah "desa" di jalan poros provinsi yang jaraknya hanya satu jam perjalan dari rumah saya di kota dan satu setengah kilometer dari bandara.
Kata "desa" dan "kampung" apa boleh buat jarang sekali menggetarkan ---atau tepatnya tidak mendapat tempat yang layak dalam kesadaran saya. Sekali dua kali ada keluarga yang datang dari kampung dan membawa buah-buahan hasil panen dari kebun, lalu bercerita tentang desa yang semakin ditinggalkan anak-anak muda, yang memilih berpindah ke kota. Tapi tetap saja tak tercatat sebagai peristiwa yang mengesankan. Sekali dua kali juga dalam urusan pekerjaan saya mengunjungi desa-desa kecil, tapi hanya kunjungan sesaat penuh formalitas yang tak menampakkan wajah desa yang asli, karena saya berada dalam rombongan gubernur atau menteri.
Saya adalah bagian dari masyarakat urban, yang memandang desa sebagai sesuatu yang asing. Tapi terus terang akhir-akhir ini saya memikirkan soal desa, karena Farid mengajak suatu waktu kelak untuk tinggal di desa, berkebun, menjadi sahabat alam dan mengabdikan diri untuk masyarakat. Di saat memikirkan ini, saya juga membaca dengan seksama tulisan teman-teman saya di Panyingkul! tentang kehidupan bersahaja di desa. Tulisan-tulisan itu adalah pemaparan khas orang kota yang mengabarkan segala keterbatasan, ketertinggalan, sekaligus ketimpangan pembangunan di desa. Jalanan belum diaspal, air bersih masih menjadi mimpi, gedung sekolah hampir ambruk, guru tak kunjung datang, hasil bumi dibeli murah para tengkulak tanpa kemampuan tawar dan keahlian pengolahan.
Kini, saya tengah mempertimbangkan dengan serius tawaran Farid untuk hidup di desa. Tentu saya mau. Seorang teman saya di Seoul telah melakukannya musim panas tahun lalu. Ia adalah produser film dokumenter yang sudah merasa lelah dengan kehidupan kota. "Di desa saya menjadi manusia yang sebenarnya," katanya saat kami bertemu bulan Juli lalu. Ia tampak sehat, kulitnya segar kemerahan, dan ia menunjukkan beberapa lecet di telapak tangannya dengan bangga. Katanya, "Saya baru saja selesai membuat sebuah bangku untuk duduk-duduk di kebun. Isteri saya memasak sayur hasil kebun sendiri.."
Mengingat penjelasan teman itu, saya makin tertarik. Tawaran Farid pun menjadi makin masuk akal. Tapi tentu bukan sekarang. Karena kalau kelak saya pindah ke desa, tentu saya tetap ingin berkirim kabar dari desa. Saya juga butuh internet untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan.
Tokyo, Sabtu 16 Desember 2006, 07:01 pm