(Peringatan: catatan ini agak panjang karena hujan pagi tadi membuat saya bergairah menulis apa saja sepanjang sore ini.)
Turut prihatin dengan banjir Jakarta dan musibah lainnya di berbagai kota. Tokyo juga tak lepas dari histeria cuaca. Kemarin cerah, hari ini hujan, dua malam sebelumnya, angin kencang yang bertiup menandai datangnya musim dingin sudah menerjang, padahal biasanya muncul sekitar akhir Maret. Menurut berita, musim dingin ini adalah yang terhangat dalam 160 tahun terakhir. Tingkat belanja rumah tangga menurun, karena orang-orang tak perlu boros menggunakan mesin penghangat dan tak perlu membeli baju dingin yang super tebal.
O,ya banjir Jakarta membuat kiriman buku “Bertiga --Kumpulan Sajak Sekeluarga” cenderamata ulang tahun perkawinan yang ke-10 dan ulangtahun Fawwaz yang ke-9, terkatung-katung di kantor pos Jakarta. Kabar ini datang dari Kantor Pos Tokyo. Buat sahabat dan teman yang telah kami janjikan kiriman buku sederhana ini, harap bersabar ya.

Sambil menunggu kabar paket kiriman buku itu, saya mau cerita sedikit tentang respon kami sendiri tentang sajak-sajak yang kamu tulis bertiga. Farid tidak begitu puas pada sajak-sajaknya yang dimasukkan dalam buku itu. Saya bilang, itu pertanda bagus. Kalau puas, nanti malah pongah dan sibuk mengagumi diri sendiri. Saya sendiri berpikiran lebih sederhana, ingin mendokumentasikan sajak-sajak yang berserakan di dalam rumah kami. Saya toh bukan penyair, tapi saya melihat manfaat luar biasa tradisi menulis sajak dalam kehidupan keluarga kami. Farid menikahi saya dengan sepotong sajak, lalu menulis sajak saat Fawwaz lahir, dan terus menulis sajak dalam berbagai peristiwa yang menggetarkan hatinya.

Fawwaz kami ajak bermain “my rhymes” selama beberapa tahun terakhir ini, dan ia memang akhirnya menikmati permainan itu. Ia menjadi lebih leluasa mengungkapkan banyak hal. Sama halnya ketika ia menikmati permainan “you`ve got a mail!” yang dulu sering kami lakukan di Melbourne. Sekarang ia senang membuat cerita, dan setiap kali ritual bercerita ini dilakukan, ia akan memberi aba-aba: “Jangan diganggu, Fawwaz sedang cerita”. Semalam, ia menemukan hobi baru, bukan sekadar bercerita, tapi “membuat film!” Aba-abanya berbunyi: “I am making a movie, do not disturb, please!”
Soal sajak-sajak yang bertebaran di rumah ini, saya merasa beruntung kini ada dua orang yang menuliskan sajak untuk saya. Fawwaz biasanya menciptakan rima pendek saat kami bercerita sebelum tidur. Temanya tentang apa saja, yang penting harus memiliki rima. Adapun Farid, meski ia mesti menunggu peristiwa yang betul-betul menggetarkan dan membuatnya tergerak, ia selalu piawai menuliskan untaian kata-kata terbaik yang membuat saya tersentuh.
Membaca sajak, menghirup secangkir teh, menatap langit dan atap rumah tetangga, ditemani sepotong kue. Ah, hidup ini memang indah. Saya mensyukurinya. Dan salah satu yang saya syukuri adalah waktu luang mencoba berbagai resep kue dan masakan di sela kesibukan kerja, lalu dengan penuh semangat mengadakan amandemen terhadap berbagai resep itu.
Nah, dua minggu ini saya serius menjalankan proyek amandemen resep. Fawwaz mendukung proyek amandemen resep ini, dengan syarat: mixer jangan lama-lama dinyalakan karena suaranya bising. Syarat kedua: kuenya jangan yang membutuhkan waktu yang lama, sehingga bisa langsung disantap. Farid juga mendukung dengan syarat: dapur tidak boleh kotor dan berantakan, sesudah praktek amandemen resep dilaksanakan.
Pertama, saya mengamandemen resep brownies kukus dari Ibu Rina Hidayat, tetangga saya. Jumlah telurnya dikurangi dari 5 butir menjadi 3 butir saja. Jumlah gulanya dikurangi dari 150 gram menjadi 50 gram saja, dan cokelat bubuknya dikurangi dari 80 gram menjadi 45 gram saja. Hasilnya tetap enak. Fawwaz dan Farid puas dengan amandemen resep brownies kukus ini, dan untuk mempercepat prosesnya, kami menggunakan kukusan sekaligus microwave oven. Jadi resep brownies kukus ini sudah saya amandemen menjadi brownies tidak kukus juga. Hehehe... maklum kukusan di rumah ini kecil, jadi lebih baik dioven saja.

Hari kedua, saya mengamandemen resep kue lapis pandan, dengan mengganti tepung beras dengan tepung kanji menjadi tepung beras ketan dan tepung biasa. Jumah gula dikurangi 50 persen, dan santan tidak sekental dengan resep asli. Tapi ada dua lembar daun pandan beku di lemari es, rasanya tentu tidak tidak sesegar pandan asli, tapi wanginya masih ada. Hm, lagi-lagi dikukus. Butuh waktu lama. Berlapis-lapis pula. Setelah selesai, Farid senang dengan kue tradisional ini, karena ini adalah versi yang tidak terlalu manis. Tapi katanya, buatan ibunya lebih enak. Sedangkan Fawwaz, dengan jujur mengatakan, “It`s sticky... what is this?”

Tak apa. Tanpa patah semangat, saya lanjut lagi ke resep ketiga yang saya amandemen. Resep lapis Surabaya. Sejak empat tahun lalu saya bercita-cita membuat kue ini. Ya, sejak empat tahun lalu. Tapi resep yang mengharuskan menggunakan 10 kuning telur untuk satu adonan, membuat saya selalu mengurungkan niat. Akhirnya saya nekat membuat setengah adonan saja, dengan 5 kuning telur (siapa juga yang mengharuskan 10 butir telur ya?). Waduh, adonannya menjadi sangat sedikit ternyata bila menggunakan telur yang lebih sedikit.
Tak apa. Coba saja. Dan benar saja, dengan cetakan yang lebih kecil, saya berhasil! Rasanya legit dan padat. Farid dan Fawwaz suka sekali dengan kue hasil amandemen ini, tapi kok hasilnya hanya delapan potong ya? (siapa suruh hanya pakai 5 kuning telur hehehe). Nah, lapis Surabaya hasil amandemen pertama kurang berhasil, karena bagian cokelatnya tidak masak dengan merata. Nantilah setelah diulang lagi keesokan harinya, saya berhasil membuatnya “mirip” dengan kue yang biasa saya lihat di toko. Hore! Ini hari bersejarah dalam karir saya di dapur: mewujudkan cita-cita membuat lapis Surabaya. Hehehehe...

Resep amandemen yang keempat adalah kue durian. Di Makassar, saya senang membeli kue kering berbentuk durian, yang di tengahnya berisi kelapa dan gula merah. Kali ini saya menggunakan resep kulit kue Nastar untuk membuat Kue Durian Asli, yang dengan isi durian sungguhan. Kemarin, seorang teman dari Malaysia, membawa ole-ole lempok durian. Farid menyarankan tak usah capek-capek dibuat kue, dimakan saja lempok itu. Rasanya sangat legit. Sejak tinggal di luar negeri, mendapatkan durian memang kemewahan tersendiri. Benar-benar durian runtuh. Lempok itu menjadi rebutan di rumah. Akhirnya tercapai kompromi, saya bisa membuat kue durian, dan menyisakan satu bungkus lempok durian lainnya untuk dimakan. Yang saya ingat, bentuk kue durian harus berbentuk seperti buah durian, lengkap dengan duri-durinya. Tak masalah. Saya masih ingat cara membuatnya. Saya selalu percaya diri membuat kue kering, karena tingkat kegagalannya sangat kecil. Dan benar saja, saya hanya butuh waktu satu jam untuk menyajikan satu toples kue durian asli. Kali ini Farid memuji kue durian asli.

Begitulah proyek amandemen resep yang sedang berlangsung di rumah ini. Nanti saya kabari lagi bila ada kegiatan lain. Sekarang, saya harus kembali menyelesaikan pekerjaan lain, yang tak ada hubungannya dengan resep kue yang diamandemen. O,ya catatan tambahan, putih telur yang banyak tersisa dari resep lapis Surabaya, kemudian diolah menjadi bakso ayam. Nah, yang ini dalam sekejap habis dilahap kami bertiga. Cuaca dingin, makan bakso buatan sendiri. Wah...

Salam,
ly
Tokyo, 20 Februari 2007/16:26.