
Pagi ini, setelah menyantap sepotong ubi manis dan segelas cendol buatan sendiri (terima kasih untuk Farid yang menyarankan teknik parut cendol yang jitu), serta meng-upload tulisan
Orang-orang yang Bertahan di Tana Tumbang saya ingin berbagi cerita tentang betapa tidak repotnya menjadi citizen reporter.
Minggu lalu, saat tulisan Akbar Abu Thalib tentang
Daeng Mandong, Penjaga Gunung Bawakaraeng, dimuat di Panyingkul! ada komentar dari Pak Ashar Karateng bahwa ia pun punya koleksi foto Kampung Lengkese, daerah yang jadi korban longsor.
Komentar ini tidak hanya menjadi "dialog" terhadap tulisan Akbar, tapi juga menjadi "sinyal menemukan citizen reporter baru". Meminjam istilah
Nesia, telinga saya langsung tegak persis anjing penjaga...
Sekadar informasi, sejak memutuskan meng-update Panyingkul! setiap hari dengan model satu kali satu (ini bukan anjuran yang tertulis di resep obat, tapi artinya satu berita satu hari) saya memang mengaktifkan semua antena penangkap sinyal citizen reporter. Semua orang saya ajak menulis. Saya menelepon sepupu, ponakan, tante, om, teman, siapa saja...
Dan saya selalu merasa hari terasa lebih indah saat mengetahui ada citizen reporter yang berminat mengirimkan tulisan.
Saya terlalu percaya bahwa banyak orang yang memiliki keinginan terpendam untuk menulis, tapi belum menemukan pasangan hidup yang pas..eh salah, tapi belum memiliki kepercayaan diri untuk memulai, atau karena terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari, kurang motivasi, dsb..dsb...
Nah, kembali ke soal foto-foto yang dikirim Pak Ashar, keterangan foto yang dilampirkannya panjang, lengkap, dan komprehensif. Pak Ashar bertutur dengan lancar tentang Kampung Lengkese dan penduduk di sana.
Bertutur lancar. Inilah intinya.
Seseorang yang mengetahui suatu hal secara menyeluruh, selalu bisa menuturkannya dengan lancar. Ini berbeda dengan wartawan profesional, yang umumnya dituntut tahu sedikit tentang banyak hal. Saya adalah contohnya. Saya bisa bicara apa saja, tapi serba sedikit. Karena tuntutan pekerjaan saya memang demikian. Hari ini saya bicara soal pengayaan uranium Iran, besok saya bicara soal Jenderal Sonthi, yang mengkudeta Thaksin di Thailand.
Citizen reporter justru bisa mengimbangi keserbaterbatasan wartawan profesional ini. Citizen reporter tidak bekerja untuk sebuah media massa, jadi tentu tidak dituntut untuk tahu banyak hal. Sebaliknya, citizen reporter adalah orang-orang dari berbagai latar belakang dan profesi yang meluangkan waktu menuliskan sesuatu, dan ini adalah kekuatan baru yang menggerakkan revolusi media di era baru.
Nah, sodara-sodara sebangsa dan setanah air,
Bisa dibayangkan bila di Panyingkul! sekumpulan citizen reporter aktif menuliskan berbagai hal yang memang diketahuinya secara penuh, tentang Makassar dan hal lainnya. Maka lahirlah tulisan-tulisan yang informatif dan tidak dangkal yang akan menjadi bacaan berkualitas bagi orang banyak. Keterlibatan Pak Ashar dengan orang-orang Lengkese yang dikunjunginya berkali-kali, sudah jelas melahirkan "bekal informasi dan pengetahuan" yang berbeda dengan wartawan tv, radio, dan koran yang hanya mengunjungi lokasi longsor itu beberapa jam (apalagi kalau hanya ikut kunjungan pejabat dan mewawancarai pejabatnya saja....) dan dengan tekanan deadline dari redakturnya, sehingga hanya dapat melahirkan laporan "hit and run".
Seperti halnya jalan yang kita lewati setiap hari menuju tempat kerja, informasi dan pengetahuan tentang suatu hal yang kita dalami, akan tersimpan dengan baik dalam ingatan kita, bukan? Semakin lama, maka semakin kita menghapal lekuk jalanan yang dilewati itu. Ada berapa lampu merah sebelum sampai kantor. Ada berapa warung dan tukang cukur di belokan terakhir sebelum sampai ke kantor, dst...
Semakin lama kita menggeluti suatu hal, maka makin berkembanglah informasi dan pengetahuan kita. Pertanyaannya, apakah semua itu akan kita simpan sendiri? Mengapa tidak dituliskan? Mengapa tidak dibagi kepada pembaca? Tidak repot memulainya, bagilah kepada Panyingkul! dan kita mengabarkan pengetahuan dan informasi itu bersama....
Di Panyingkul! saya berusaha mengaktifkan komunitas citizen reporter yang berasal dari berbagai latar belakang. Ada Pak Hamus Rippin di Waalwijk yang Belanda yang punya segudang cerita nostalgia, Hajjah (BKR) In-Art sang pendaki gunung, Meneer Rahmat Hidayat sang dokter muda dengan pipi yang senantiasa merah-ranum, segerombolan penyair dan penulis cerpen di istana nan megah di Bibliocholic, Meli sang sarjana baru yang lagi cari kerja, Mawo sang fotografer kampus, Ibu dosen Yaya di Kendari, dan semuanya.
Jadi, mari kita rayakan jurnalisme orang biasa di
Panyingkul!, dengan membagi apa yang kita ketahui dan kita lihat. Perwujudan perayaannya adalah dengan mengabarkan sebagai citizen reporter. Tidak repot, bukan?
Tokyo, 21 September 2006
::ly::
__._,_.___