Di bagian pertama, saya sudah bercerita tentang kejadian kecil di rumah saya. Semoga ada hikmahnya bagi siapa saja yang membaca.
Sekarang, saya ingin bercerita tentang seorang ibu tua di kota Kanuma Jepang di Provinsi Tochigi, Jepang.
Ibu ini dengan setia mengirim uang seribu yen setiap bulan ke kantor Dinas Sosial Kanuma dengan nama samaran "Pembawa Pesan dari Surga". Seribu yen bukan jumlah yang banyak. Di restoran sederhana di Tokyo, dengan seribu yen kita bisa mendapatkan satu porsi makan siang. Yang dilakukan si pembawa pesan dari surga adalah mengirimkan seribu yen setiap bulan selama 24 tahun. Di dalam amplop yang dikirimnya, kadang terselip surat pendek yang bercerita tentang musim dan cuaca. Di satu-dua amplop, ia kadang memasukkan selembar daun mapel merah sebagai penanda musim gugur atau kelopak sakura untuk mengabarkan suasana musim semi di halaman rumahnya.
Bagi para pegawai kantor Dinas Sosial Kanuma, kehadiran si pembawa pesan dari surga ini menjadi misteri sekaligus berkah. Orang bertanya-tanya siapa gerangan dermawan ini? Sumbangannya disalurkan untuk membantu orang jompo, sementara surat-surat pendeknya menjadi penyejuk di sela kerja rutin para pegawai. Bukan nilai sumbangan si dermawan yang menjadi pokok pembicaraan, melainkan kesetiaannya terus menerus mengirimkannya tanpa pernah terhenti sekali pun. Di suratnya yang ke-100, ia merayakannya dengan sederhana melalui surat pendek khusus yang bertuliskan rasa terima kasih pada kehidupan yang begitu baik, berkat kesehatan yang tak bernilai, dan semangat untuk terus menyumbangkan seribu yen sebagai wujud syukurnya. Ia pun berterima kasih pada pegawai yang senantiasa menerima dan menyalurkan sumbangannya.
Setelah 24 tahun berselang, ia akhirnya menulis surat perpisahan dan memutuskan dengan berat hati untuk menghentikan derma kecil yang berlangsung hampir seperempat abad itu. Alasannya, karena ia telah makin tua dan tak punya tenaga lagi.
Di suatu hari musim gugur yang dingin, ia muncul di Kantor Dinas Sosial Kanuma dan membuka jati dirinya. Seorang ibu dengan kehidupan yang sangat biasa, --tipikal kehidupan orang kebanyakan.
Maka bertuturlah ia, betapa dirinya bersyukur akan nasib baik memiliki keluarga yang berbahagia dan usaha gunting rambut yang cukup berhasil, yang dikelolanya bersama suami dan anak-anaknya di Kanuma. Ia merasa, kehidupan yang dijalaninya patut disyukuri dengan cara menyisihkan seribu yen setiap bulan untuk kepentingan orang banyak. Usahanya sempat macet, salah seorang anaknya meninggal karena kanker, kemudian menyusul suaminya yang juga meninggal digerogoti penyakit. Tapi ia masih tetap bersyukur untuk rasa tegar dan kekuatan menjalani hidup. Uang seribu yen dan surat pendek tetap dikirimnya. Bila kemudian akhirnya ia berhenti memerankan "drama" panjang berjudul "Pembawa Pesan dari Surga" dengan sutradara dan tokoh utamanya adalah dirinya sendiri, itu semata-mata karena ia tak sanggup lagi menulis surat disebabkan serangan penyakit tua.
Di hari pengakuan itu, para pegawai Dinas Sosial Kanuma memang tidak mendapatkan kiriman seribu yen seperti biasanya, melainkan pelajaran tentang keindahan hati manusia yang tiada bandingannya.
Berderma dengan setia dalam waktu yang demikian lama. Sungguh, hanya hati yang luar biasa tulus yang bisa melakukannya.
Tokyo, 13 April 2007
*Kisah ini saya ambil dari kisah dalam program radio NHK.