400 gram tepung gandum, 200 gram tepung terigu dan 160 gram air. Setelah itu saya perlu melalui rentangan waktu kurang lebih dua jam untuk mengolahnya, demi untuk mendapatkan semangkuk soba, mi Jepang yang lezat. Tapi tak apa, saya menikmatinya. Saya selalu menikmati sebuah proses dengan tujuan yang pasti. Di hari Minggu yang cerah itu, saya hadir di sebuah dapur warung soba yang disebut-sebut sebagai yang paling lezat di Tokyo.Sebuah warung kecil yang berada di himpitan gedung yang tampak monoton di kawasan kota lama, Asakusa. Di dapur warung itulah saya bergelut dengan bahan-bahan sederhana itu: dua jenis tepung yang harus disatukan dengan air, kemudian berlatih mengerahkan daya tekan di kedua telapak tangan untuk membentuk adonan yang kalis.
Membuat mi menjadi cita-cita sederhana siang itu. Ini pertama kali dalam hidup saya. Mi, makanan olahan dari tepung itu adalah sesuatu tidak pernah saya pikirkan secara serius. Saya, misalnya, tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana mi diolah dari tepung dan air menjadi benang-benang yang terurai sempuna dan siap di santap. Rasa-rasanya, sejak kecil, mi dalam kesadaran saya adalah sesuatu yang instan, selalu ada dan siap saji. Dulu, membuat mi sendiri bagi saya barangkali sama mustahilnya dengan bercita-cita mendaftarkan diri sebagai peserta tur ke bulan, yang bahkan Daisuke Inoue sang penemu karaoke pun gagal ikut seleksi. Hingga sebuah tawaran membuat mi datang ke meja kerja saya, dan saya harus meralat perbandingan mengada-ada itu.
Dulu, di kota saya, Makassar, ada pabrik mi yang terkenal. Toko Liem namanya. Kerabat dari kampung selalu membeli mi basah kiloan di Toko Liem lalu dibawa pulang sebagai buah tangan. Toko Liem kemudian mengubah nama menjadi Toko Halim, karena alasan nasionalisme barangkali. Tak hanya nama yang berubah, tapi juga isi toko yang meniru konsep pasar swalayan dengan rak-rak yang dijejali barang, serta kereta belanja yang menghadang di pintu masuk. Timbangan mi basah kiloan di pojok Toko Halim seperti menjelma sejarah yang sepi, digantikan serbuan mi instan yang dikemas menggoda. Pemilik toko yang biasa ramah menyapa pelanggan sambil menimbang mi basah buatannya sendiri, sudah berpindah ke kursi kasir yang mesin penghitungnya berbunyi "cling" setiap kali lacinya menjulur keluar. Saya pun semakin jarang melihat orang-orang dari kampung saya membeli mi basah di Toko Halim, dan kata seorang kerabat, "Mi bukan lagi ole-ole yang membanggakan.... warung di atas gunung pun menjual indomi...."
Jadi begitulah, sambil menghabiskan hampir dua jam membanting dan menggiling adonan tepung dan air itu hingga kalis, saya mengenang banyak hal. Di kelas membuat mi itu kami bertepuk tangan menyaksikan kelincahan sang ahli pembuat mi mengolah adonan dan dengan kecermatan luar biasa memotong-motong adonan yang telah digiling itu dengan ukuran yang sama! Saya pun mencobanya, semua orang di kelas itu mencobanya. Ada teriakan takjub, ada juga keluhan. Guru masak yang baik itu satu dua kali memberi banyak wejangan tentang perlunya kita menarik diri dari sesuatu yang serba instan.
Lantas apa yang saya pelajari di hari itu? Ya itu tadi, sebuah penghargaan terhadap sebuah proses yang lengkap, sebuah siklus yang diikuti sepenuhnya dari awal hingga akhir. Sang ahli mi hari itu memberi inspirasi, bahwa mencipta dan mengusahakan sendiri, dan bukannya sekadar mengonsumsi, adalah pilihan sikap yang mendatangkan kebahagiaan.
Sungguh, saya berbahagia dengan menu makan siang kali ini: semangkuk mi buatan sendiri. Ada penghargaan terhadap upaya yang dilakukan, ada kesan-kesan mendalam yang menghadirkan perenungan. Suasana batin yang tidak mungkin saya dapatkan ketika memutuskan mengolah mi instan di dapur bila waktu rasanya tak pernah cukup mengerjakan banyak hal.
Kini, makin pahamlah saya, mengapa para petualang yang menghabiskan berhari-hari mencari ikan di sungai-sungai yang dalam, kemudian menyantap hasil tangkapannya di api unggun, selalu terlihat seolah-olah merekalah orang yang paling berbahagia di dunia. Dalam kondisi yang berbeda, saya pun seharusnya bisa menciptakan kepuasan batin dengan pencapaian-pencapaian sederhana, setiap hari, setiap saat. Dan di hari itu, saya meninggalkan warung soba yang disebut-sebut sebagai yang paling lezat di Tokyo itu, dengan perasaan sebagai orang yang paling berbahagia di dunia.
Tokyo, 18 Mei 2007/12:44 pm