Makkunrai Project digagas oleh Lily Yulianti Farid dan Luna Vidya pada bulan Maret 2008 saat berkolaborasi mengembangkan cerita pendek berjudul Makkunrai dari kumpulan cerpen Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya, menjadi kemasan pertunjukan monolog. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan bantuan Nilam Indahsari Sirathak (Makassar) sebagai manajer produksi dan Mirwan Andan Yusuf (Jakarta) sebagai koordinator kerja sama dan promosi, Makkunrai Project ditetapkan sebagai sebuah kegiatan pertunjukan yang bersifat berkelanjutan, yang berkomitmen melakukan gender awareness program melalui pentas monolog dengan target audiens yang lebih luas dan beragam.
Makkunrai Project bekerja sama dengan Kala Teater pimpinan Shinta Febriany untuk mengembangkan sejumlah naskah monolog lainnya yang diambil dari kumpulan cerpen tersebut. Keuntungan dari setiap kegiatan Makkunrai Project disalurkan untuk membantu perempuan potensil di berbagai bidang, khususnya yang mengembangkan kegiatan independen dan berada di pelosok Sulawesi Selatan/Sulawesi Barat.
Makkunrai Project terbuka terhadap ajakan kerja sama dari lembaga maupun individu yang memiliki visi yang sama: mengajarkan pendidikan jender melalui pementasan monolog dan apresiasi karya sastra.
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Manajer Produksi
Nilam Indahsari Sirathak
Email: nilam_indahsari@yahoo.com
Mobile: +62 81 241 229 089
Koordinator Kerja Sama dan Promosi
Mirwan Andan Yusuf
Email: mirwanandan@gmail.com
Mobile: +62 81 319 242 965
tentang kala teater
Kala teater adalah perkumpulan yang bergerak di bidang seni dan budaya. Ideologi kerja kala teater berpijak pada kepedulian terhadap hubungan antar-manusia dalam realitas sosial, agama, dan pendidikan.
Kala teater berupaya mewujudkan visinya yakni menjadikan teater sebagai media untuk mengasah kepekaan antar-manusia melalui misi membangun partisipasi masyarakat, menjalin kerja sama dengan pelaku-pelaku teater serta lembaga-lembaga seni dan budaya.
Kala teater dibentuk sebagai ikhtiar memaknai dan menerjemahkan kerja teater sebagai kerja kebudayaan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi kehidupan bersama yang lebih baik.
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Alamat: Komp. Hartaco Indah Blok IIA No. 72 Makassar 90224 Sulawesi Selatan- Indonesia
Email: kalateater@yahoo.com
Mobile: +62 81 354 835 497

Tim Kerja
1. Luna Vidia, Aktor
Luna Vidia, lahir di Ifar Gunung, kampung di Sentani, Papua. LV berteater sejak tahun 1984 ketika datang ke Makassar untuk kuliah. Sejak itu LV bermain dalam berbagai pementasan bersama Sanggar Merah Putih, Teater Kampus Unhas, Koor Manusia –bersama Roland Ganamet, teaterawan Perancis-; Teater Makassar, dan yang terakhir bersama Kelompok Studi Teater Tambora dalam kerja-kerja kolaboratif. Sejak 2004 memfokuskan diri pada teater monolog. Dalam trend itu LV menjadi pemain dan belakangan juga menulis naskah.
Dalam perjalanan sebagai pemain monolog, terlibat memainkan salah satu nomor dalam pementasan Vagina Monolog, mementaskan Balada Sumarah, Nyanyian Angsa, Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Khotbah (beberapa puisi Rendra dalam Kumpulan Blues Untuk Bonie). Mulai menulis naskah sendiri sejak 2005: Meja Makan, Namaku Inna, Di Balik Pintu, Tuhan Bukan Gembalaku, yang terakhir adalah Makkunrai dan Dapur (yang bersumber dari kumpulan cerpen Makkunrai, karya Lily Yulianti).
2. Nadia Siregar, Aktor
Lahir di Jayapura, 30 Oktober 1986. Bermain sebagai aktor di dalam Kisah Tubuh karya Shinta Febriany adalah debut pertamanya di teater. Sebelumnya, aktif sebagai penari pada beberapa produksi tari dan mendapat kesempatan mentas di Canberra, Republik of Palau, dan lain-lain. Selain magang di kala teater, saat ini tengah menempuh kuliahnya di Fakultas Teknik Jurusan Perkapalan Universitas Hasanuddin.
3. Imelda Adhiyanty, Aktor
Lahir di Makassar, 9 Mei 1981. Aktif berteater sejak tahun 2000. Mengikuti Festival Monolog Nasional Putu Wijaya di Bandung pada 2003. Selain sebagai staf pengajar di ELC-IDP juga tengah menempuh kuliahnya di Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
4. Maskur Al Alief, Penata Musik
Lahir di Gowa, 8 November 1973. Menjadi penata musik sejak 1993 pada sejumlah produksi teater dan tari. Turut mendirikan KBH (Komunitas Baju Hitam) dan KETAMA (Kelompok Tabuh Makassar). Mengikuti sejumlah festival musik di Solo, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan lain-lain. Mengikuti festival seni ritual di Korea di tahun 2006.
5. Tiar, Penata Musik
Lahir di Sungguminasa, 1 Januari 1980. Aktif sebagai penata musik pada sejumlah produksi tari Sanggar Seni Syekh Yusuf dan Sanggar Makassar Art.
6. Betet, Penata Musik
Lahir di Makassar, 29 April 1976. Sejak tahun 1999 menjadi penata musik pada karya teater Sang Tokoh, Heterogen, Si Buta dari Goa Hantu, Konglomerat Burisrawa, Phobia, dan lain-lain.
7. Ale Deep, Kru Panggung
Lahir di Makassar, 29 Juli 1977. Juga aktif sebagai penata cahaya dan aktor. Tahun 2002, di Festival Teater se-Sulawesi Selatan V di Makassar, ia meraih penghargaan sebagai penata cahaya terbaik. Pernah pula mengikuti workshop tata cahaya oleh Sukma Sillanan (BKKI 2005). Terlibat sebagai aktor pada produksi teater Menunggu Batu Tumbuh dan Kausal Tanah Batu karya sutradara Arman Dewarti, Dar Der Dor dan Batu Menuju Batu karya sutradara Ismad Sahupala serta Namaku adam tanpa huruf kapital karya sutradara Shinta Febriany.
8. Alam Raya, Kru Panggung
Lahir di Makassar,28 April 1975. Aktif berteater sejak tahun 2000 antara lain pada produksi teater Kausal Tanah Batu karya sutradara Arman Dewarti. Selain sebagai kru panggung, juga kerap bertindak sebagai stage manager pada beberapa pertunjukan.
9. Nilam Indahsari Sirathak, Manajer Produksi
Lahir di Ujungpandang, 14 April 1983. Selain bekerja sebagai salah seorang tim website berita bergenre citizen journalism www.panyingkul.com, juga aktif menulis reportase tentang orang-orang biasa di Makassar dan sekitarnya sejak Mei 2006. Lima reportasenya dimuat dalam buku kumpulan tulisan Makassar di Panyingkul! Kabar Orang Biasa 2006-2007 terbitan Panyingkul!. Dan dua di antaranya diterjemahkan dan dimuat pada Majalah Bulanan IDE (Institute Developing Economies) Japan External Trade Organization (JETRO) World Trend, Jepang, Juni dan September 2007. Saat ini sedang berusaha menyelesaikan strata satunya pada studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Ini pengalaman pertamanya memanajeri produksi teater.
10. Shinta Febriany, Sutradara
Lahir di Palopo, 5 Februari 1979. Sejak 1996 bergabung dalam Sanggar Merah Putih Makassar sebagai penulis, aktor dan sutradara, tahun 1998 membacakan puisi-puisinya pada temu taman budaya se-Indonesia di Bali, tahun 1999 mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik pada festival teater se-Sulawesi Selatan I melalui produksi teater Toddopuli karya sutradara Ilham Latief. Tahun 2000, melalui Program Japan Foundation, mengunjungi beberapa kota di Jepang dalam perjalanan pengenalan kehidupan teater di Jepang. Di tahun 2001, kembali terlibat sebagai aktor pada produksi teater Kausal Tanah Batu karya sutradara Arman Dewarti. Tahun 2002, mendapatkan penghargaan sebagai aktris dan sutradara terbaik pada festival teater se-Sulawesi Selatan V. Di tahun 2005, ia diundang sebagai pembicara pada Indonesia Culture Workshop di Universitas Tasmania, Lauceston, Australia. Kini bekerja sebagai Direktur Artistik pada Kala Teater.
monolog MAKKUNRAI
Disadur oleh Luna Vidya dari cerpen ‘Makkunrai’ karya Lily Yulianti Farid
MAKKUNRAI berkisah tentang seorang Makkunrai (perempuan dalam konteks Bugis) yang berusaha menyadarkan keluarganya tentang kenyataan yang “mencekik” neneknya. Kenyataan bahwa sang kakek adalah seorang suami yang doyan kawin. Juga menyadarkan tentang kekuasaan sang kakek. Di dalam kehidupan keluarga Makkunrai, kakek menjadi “penulis skenario” bagi kehidupan anak dan cucu-cucunya. Saat skenario mulai menyentuh kehidupan Makkunrai, ia berontak. Ia menolak dikawinsilangkan dengan aktor lelaki dari skenario kehidupan sang kakek--seperti yang dialami oleh keempat kakak perempuannya. Meski dengan tawaran hadiah sawah, kerbau, dan sebuah apartemen di Jakarta.
monolog SEKOLAH PANUTAN
Disadur oleh Shinta Febriany dari cerpen ‘Kelas 1-9’ karya Lily Yulianti Farid
SEKOLAH PANUTAN berkisah tentang seorang perempuan dari keluarga miskin bernama Marayya. Dia ingin menuntut ilmu di sekolah panutan agar bisa mewujudkan mimpinya menjadi ‘seseorang’. Marayya menemukan kenyataan lain. Sekolah panutan tersebut ternyata semata-mata tidak untuk siswa berotak cemerlang. Siswa berotak pas-pasan pun dapat masuk sekolah tersebut. Mereka melalui jalur khusus yang telah disiapkan oleh pihak sekolah. Jalur untuk keluarga kaya dan berkuasa.
monolog PEMBENCI JAKARTA
Disadur oleh Shinta Febriany dari cerpen ‘Pembenci Jakarta’ karya Lily Yulianti Farid
PEMBENCI JAKARTA berkisah tentang seorang perempuan kampung bernama Sari. Sari bermimpi bisa melihat Jakarta. Impiannya terwujud. Sayangnya, malah pengalaman buruk yang didapatnya di sana. Di desanya sendiri, ia beberapa kali bertemu dengan orang-orang dari Jakarta yang datang “meneliti” desanya untuk keperluan proyek. Orang-orang Jakarta yang dielu-elukan dan selalu disambut upacara meriah meski dananya berasal dari jerih payah warga desa sendiri. Pengalaman-pengalaman ini berjalin merangkai kebencian Sari terhadap Jakarta.
Penampilan Pertama Makkunrai Project:
Rabu 30 April 2008
Gedung Kesenian Makassar
19.00 - selesai
Dalam Rangkaian Pundipundi Perempuan Mendukung Caleg Perempuan untuk Pemilu 2009
*Flyer ini saya pinjam dari sini
(Makasih Nilam!)