Blog EntryApa Kata Mereka Tentang MakkunraiMar 28, '08 11:27 PM
for everyone

Makkunrai

Kumpulan Cerpen Lily Yulianti Farid

Nala Cipta Litera, Maret 2008

Epilog: Nirwan Ahmad Arsuka

– Sebelas cerita yang ditulis khusus dengan mengangkat berbagai respon perempuan segala usia atas peristiwa sosial politik, konflik, korupsi, poligami hingga flu burung, mengambil latar lokal, nasional dan internasional. Makkunrai, yang berarti perempuan dalam bahasa Bugis, dipilih sebagai judul yang mengikat kesebelas cerita yang menampilkan tarik ulur, ambiguitas, ironi, perlawanan dan bahkan humor yang dilihat dari sudut pandang perempuan. Makkunrai adalah sebuah buku yang feminis, di mana sejumlah cerita di dalamnya terkesan mengolok-olok kekuasaan lakilaki, sekaligus mendedah kompleksitas dunia dalam kaum perempuan —

Buku ini sekaligus diterbitkan dalam bingkai inisiatif independen bernama Sastra dari Makassar, yang digagas oleh media citizen journalism Panyingkul! – Rumah Baca Bibliocholic – Penerbit Nala Cipta Litera – Forum Tenda Kata

Komentar Pembaca:

Lily Yulianti Farid terang seorang penulis yang punya semangat bercerita yang menonjol, dengan lumbung pengetahuan yang lebih dari memadai. Watak yang langsung terasa dari cerpen-cerpen di buku ini adalah bahasanya yang renyah, suasana dasarnya yang cenderung liris, humor yang kerap menari cerdas, serta kepedulian yang terus mendebur dan tak pernah surut pada dunia sekitar, khususnya dunia sosial politik yang menelikung kaum yang tak diuntungkan.

 

Cerpen-cerpen Lily tak jarang dihiasi oleh kejutan dan belokan tajam dalam alur, latar yang bergeser lincah, perandengan citraan yang kontras, dan keberanian yang lebih untuk mengupas stereotip dan prasangka kolektif sembari membeberkan secara lebih terbuka dan prismatis hal-hal yang biasanya disimpan rapat. Sekat-sekat kognitif antara yang lokal, nasional, dan internasional, misalnya, atau yang silam dan yang sekarang, dengan enteng diluluhkan dan dilintasi bolak-balik, sehingga pembaca bisa tercenung merasakan Indonesia yang lain; Indonesia yang sangat “daerah” sekaligus kosmopolit; Indonesia kontemporer yang sukmanya mungkin tetap berdegup tapi dengan aparatur yang kian susut jadi bayang-bayang ganjil yang salah waktu.

Sebelas cerita yang tersaji dalam kumpulan ini menghadirkan suara perempuan yang agak lain, menyempal dari arus “besar” yang banyak menggelar soal perempuan dan tubuhnya. Penyempalan Lily menyumbang sejumlah hal. Suara perempuan yang sangat berakar pada masa silamnya di sudut timur Nusantara, diramu dengan suara perempuan yang datang dari masa depan yang sangat dekat dan telah menjadi masa kini. Sekian cerita dia ikut mengembalikan humor ke khazanah sastra Indonesia kontemporer yang kadang terasa agak terlalu sibuk bersendu-sendu. Selain beberapa unsur formal komposisi  yang masih perlu dikembangkan lagi, kumpulan cerpen ini berhasil menghadirkan bukan hanya kilasan Indonesia awal abad 21 yang  lebih intim ke pengalaman sekaligus lebih lapang dari batas-batas tradisional yang umum disungkupkan.

(Nirwan Ahmad Arsuka, kritikus sastra dan eseis)

 
Cerpen-cerpen dalam Makkunrai,  berada dalam posisi tarik-ulur yang mengasyikkan: metropolis sekaligus arkhais; feminis, juga patetis. Lihatlah, histografi kota-kota dunia yang referensial bersanding (sekaligus bertanding) dengan daya-tarik kota-kota lokal—dengan segala tradisinya yang menjengkelkan. Tak jarang para tokoh yang terlempar ke luar ingin direturn ke tempat asal, dan itu mesti berhadapan dengan soal lain yang tak kalah kompleks seperti kebebasan. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang “di dalam” berjuang untuk bisa lepas ke luar, meski dengan resiko klenger dihajar kenangan.

 Dalam proses itu, tokoh-tokoh perempuannya jamak berkisar dan bertolak dari (kuasa) para tokoh lakilaki, sebagai antitesis yang kadang hitam-putih. Tapi tampaknya inilah perspektif yang secara sadar dipilih pengarang dalam mendedah dunia makkunrai (perempuan). Sebuah dunia yang memang penuh tarik-ulur, ambiguisitas sekaligus kemungkinan, dan secara kebetulan menghidupkan sebaris syair lawas, “bertukar-tangkap dengan lepas,” atau sebaliknya.

(Raudal Tanjung Banua, Koordinator Komunitas Rumahlebah Yogyakarta dan Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia)

Lily bertutur tentang dunia perempuan yang ingin lepas dari tradisi dan dominasi atas nama  apa pun, dengan bahasa yang lincah dan alur penuh kejutan!

(Linda  Christanty, penulis kumpulan cerpen “Kuda Terbang Maria Pinto”, pemenang Khatulistiwa Literary Award 2004)


Ketika saya memutuskan untuk membaca salah satu cerpen Lily berjudul ”Api”, kemudian berlanjut membaca cerpen-cerpen yang lain, tiba-tiba saya jadi ragu, apa benar ia masih perlu komentar dari saya? cerpen-cerpen ini bagus sekali, bahkan sejujurnya saya merasa sirik berharap bisa menulis yang serupa itu.

(Eka Kurniawan, penulis novel “Cantik Itu Luka”)

Lily menggunakan alat analisis sosial yang tajam, melakukan riset yang memadai, tidak terjebak dalam tokoh hitam putih, dan berhasil mengangkat secara detail respon perempuan terhadap persoalan-persoalan besar seperti korupsi, penyelewengan hingga poligami.

(Mariana Amiruddin, Direktur Jurnal Perempuan, aktivis perempuan, cerpenis)


 

 

 


Comment deleted at the request of the thread owner.
ettysaza wrote on Mar 29
Waduh, mbak, selamat ya... rasanya ingin bacaaaa deh...
bugismafia wrote on Mar 30
Congrats Ly! Mau sekale ka' bacaki gang! Gimana dapat bukunya?
bundaashiila wrote on Mar 30
Jadi tambah penasaran, jangan lupa hari Selasa bawa ke kantor ya.....^_^
bundaashiila wrote on Apr 2
Mbak Lily, aku baru baca sampai cerita kedua. Baguus loh, beneran deh. Aku bukannya muji-muji karena namaku tercantum di dalamnya loh, tapi obyektif kok.
Pengen bikin bedah buku mbak Lily sama eman-teman boleh gak? hehe
bundaashiila wrote on Apr 3
Halo mbak, tema MPnya kalo makkunrai gimana? warnanya seperti sampul bukunya aja^^.
Btw sampai saat ini heroin yang paling aku suka adalah Marayya, dia 100 persen fiktif apa ada modelnya nih?
chisha wrote on Apr 10
Halo Mbak Lily, ini aku, Pipiet.. mengulasnya lewat sini saja ya. Sebenernya dah disampaikan langsung sih tapi ditulis aja biar afdol. Overall, aku suka gaya bahasa Mbak Lily.. crispy.. plot cerita kreatif, tema-temanya dalam.

Kalo Prieka suka Marayya, aku suka Dahlia di Rumah Dahlia. Buat aku, cerita ini cukup merepresentasikan kegalauanku soal feminisme dan membuatku cukup lama merenung tentang jalan hidup. Terkadang, tempat yang paling "jauh" itu rumah, hal yang paling sulit itu berpikir sederhana, sosok yang terasa paling palsu itu menjadi wanita sejati, dan hidup yang paling sepi itu hidup tanpa air mata. Dan "aku pun menangis"..
bundaashiila wrote on Apr 11
Halo Pipit, iya Pit, kadang yang paling susah itu justru berpikir sederhana yah. Aku janji tulis review di blog ku ke mb Lily belum terwujud nih, semoga hari ini ada waktu nulisnya.
Pit, gimana kalo kita bikin bedah bukunya mb Lily?
uychan wrote on Apr 29
mbak lily, mau juga ....
^^
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help